Rabu, 05 September 2012

Kisah Mahasiswi IPB Penerima Bidik Misi

Kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) adalah impian semua siswa, termasuk Santi Aprilliani. Lulusan SMAN 2 Trenggalek, Jawa Timur Tahun 2011, ini sempet menunda cita-citanya lantaran terkendala biaya. Padahal, dia diterima di salah satu PTN di Jawa Timur, namun butuh biaya Rp12 juta. Laporan: JEREMIA ALBERT IFLE ----------- 

 IPB Darmaga Bogor, Santi sempat tertunduk malu-malu, karena dia sempat dikerjai staf IPB. Salah seorang staf IPB mengatakan kalau ada polisi yang mencarinya. “Maaf Mas saya kaget, tadi katanya dari kepolisian yang mencari, soalnya gak punya salah apa-apa,” ujarnya membuka pembicaraan dengan wartawan Radar Bogor. Wanita berjilbab ini menceritakan awal kisah sebelum masuk kuliah di IPB. Seperti siswa-siswi lain yang baru lulus SMA, dia tertarik ikuti SNMPTN dan memilih perguruan tinggi negeri (PTN) favorit. Meski kondisi ekonomi keluarga pas-pasan, Santi tidak gentar ikut bersaing dengan puluhan ribuan peserta seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) di seluruh Indonesia. Rasa gembira sempat menghampirinya saat melihat pengumuman bahwa Santi diterima PTN pilihannya. 

Santi pun mengurus segala persyartan. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sunoto dan Tumirah, ini pergi ke kampus tesebut. Namun, Santi tidak menyangka setelah memasuki proses administrasi, dia harus menyiapkan dana Rp12 juta. Tentu bukan mudah bagi keluarga Santi untuk menyiapkan uang sebesar itu. “Itu bukan biaya kecil bagi keluarga kami. Ayah saya buruh bangunan dengan penghasilan Rp400 ribu per bulan. Jangankan biaya kuliah, makan sehari-hari saja kami kekurangan,” ceritanya lirih. Selama dalam perjalanan enam jam menuju rumahnya, Santi mengaku tak henti meneteskan air mata. Sebab, dia terpaksa mengubur mimpinya itu karena keterbatasan ekonomi keluarganya. Padahal, kata Santi, di kampungnya semua tentangga sudah tahu kalau dia diterima kuliah di universitas negeri. Kepada tetangganya, Santi mencoba menjelaskan kalau dia tidak bisa kuliah karena biayanya mahal. ”Gak jadi, biaya kuliahnya mahal,” kata Santi kepada warga. Kedua orangtua sempat pesimis bahwa kuliah hanya untuk kalang orang mampu. Namun, orangtunya tetap berusaha mencari uang untuk biaya kuliah. Setelah keliling ke sana kemari, orangtuanya bisa mengumpulkan Rp2 juta. “Saya tetap semangat, dan ibu membawa uang Rp2 juta ke kampus. Tapi apa yang didapat setelah ibu menghadap bagian akademik, pihak kampus menolak dan mengatakan harus ada uang Rp6 juta sebagai tanda jadi, namun tetap harus bayar utuh,” tuturnya. Dari situlah Santi mengaku berpikir untuk menunda cita-cita itu. 

Beruntung ada pamannya mengajak hijrah ke Jakarta untuk bekerja sebagai penjaga toko sembako dengan gaji per bulan Rp400 ribu. “Uang gaji itu saya tabung setiap bulan Rp100 ribu. Uang itu ingin saya gunakan untuk membayar biaya kuliah jika diterima lagi di univeritas. Selama setahun, sambil kerja saya tetap belajar mengulang mata pelajaran SMA,” paparnya. Menginjak 2012, Santi semasa SMA memiliki empat sahabat yang termasuk golongan orang mampu. Mereka (sahabat) sudah kuliah di beberapa perguruan tinggi. Salah seorang sahabatnya menelepon bahwa pemerintah mengadakan program Bidik Misi bagi mahasiswa tidak mampu. “Saya akhirnya memutuskan pulang kampung untuk mengikuti SNMPTN lagi. 

Saya kembali ke sekolah yang dulu untuk mendaftar sebagai peserta Bidik Misi melalui online. Karena suka dengan biologi, saya memilih Departemen Agronomi dan Holtikultura Fakultas Pertanian IPB,” paparnya. Selah mengetahui diterima di IPB, yang merupakan kampus kebanggaan masyarakat Bogor, Santi mengaku sempat menangis. Dia langsung sujud syukur. Namun sempat terpikir dalam benaknya jika tidak masuk Bidik Misi, ia tidak akan kuliah di IPB. Santi pun berangkat ke IPB menggunakan kereta Mataremaja bersama orang tuanya. Selama di Bogor, Santi tinggal di kontrakan temannya. Setelah melalui perjuangan panjang, Santi akhirnya diterima di IPB dan mendapatkan beasiswa Bidik Misi. Santi mengaku tidak akan menyianyiakan kesempatan kuliah di IPB dengan biaya kuliah ditanggung pemerintah lewat beasiswa Bidik Misi. Dia juga menerima uang tunai Rp600 ribu per bulan untuk biaya hidup sehari-hari. “Uang itu akan digunakan sebaik mungkin, bahkan sekarang saja kalau cari makan harus keliling dulu cari yang murah,” tuturnya polos.(*)

Share:

0 comments:

Posting Komentar

KEGIATAN KAMI

Tentang Kami

Wadah mahasiswa Bidikmisi UNM untuk saling berkreasin berinovasi dan tentunya menginspirasi.
Ayo kirimkan cerita inspiratif kalian sebagai mahasiswa Bidikmisi agar bisa menginspirasi banyak orang.

Kirimkan ke: ikbim.unm@gmail.com
ikbim.unm@gmail.com
.

Arsip

ADMIN

Website ini dikelola oleh Bidang 3 Media dan Komunikasi IKBIM UNM Periode 2017-2018

1. Muhammmad Akhsan Alimuddin
2. A. Irvan Pradana
3. Nurhidayah
4. Vivi Suyanti
4. Nining Rahmiati
4. Muh. Irwan
4. Lindasari

Theme Support