Jumat, 31 Januari 2014

Persiapan Persyaratan Bidikmisi 2014

Persiapan Persyaratan Bidikmisi 2014 [Dari PEDOMAN BM 2013]

A. Persyaratan Calon PenerimaPersyaratan untuk mendaftar tahun 2013 (nanti 2014) adalah sebagai berikut:
  1. Siswa SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lain yang sederajat yang akan lulus pada tahun 2014;
  2. Lulusan tahun 2013 yang bukan penerima Bidikmisi dan tidak bertentangan dengan ketentuan penerimaan mahasiswa baru di masing-masing perguruan tinggi;
  3. Usia paling tinggi pada saat mendaftar adalah 21 tahun;
  4. Tidak mampu secara ekonomi sebagai berikut:
  • Pendapatan kotor gabungan orangtua/wali (suami istri) sebesar-besarnya Rp3.000.000,00 per bulan. Pendapatan yang dimaksud meliputi seluruh penghasilan yang diperoleh. Untuk pekerjaan non formal/informal pendapatan yang dimaksud adalah rata rata penghasilan per bulan dalam satu tahun terakhir.
  • Pendapatan kotor gabungan orangtua/wali dibagi jumlah anggota keluarga sebesar-besarnya Rp750.000,00 setiap bulannya;
5. Pendidikan orang tua/wali setinggi-tingginya S1 (Strata 1) atau Diploma 4.
6. Berpotensi akademik baik, yaitu direkomendasikan sekolah.
7. Pendaftar difasilitasi untuk memilih salah satu diantara PTN atau PTS dengan ketentuan:
a. PTN dengan pilihan seleksi masuk:
  1.  Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN);
  2. Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMTPN);
  3. Seleksi mandiri di 1 (satu) PTN.b. PTS dengan pilihan seleksi masuk di 1 (satu) PTS.Buat yang sudah pernah daftar BM, tambahin lagi dibawah ya kalau ada persyaratan tambahan misalkan surat-surat , seperti surat dokter, nilai rapor semester.. dsb..
Berkas-berkas:(Dari Rini Wang)Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)Sertifikat (bila ada)Foto rumah tampak dari depan, ruang keluarga, dan foto 1 keluarga (semua anggota keluarga)(Dari Havinda dan S)nilai raport smt 1-5 foto rumah tampak d epan , kamar mandi , ruang tamu, foto bersama keluarga yang tinggal serumah foto diri sendiri dalam bentuk cd.(Dari Sekolah Elfany)
  1. Formulir diisi lengkap dengan HURUP KAPITAL, baca dulu petunjuknya.
  2. Pas foto warna 3x4 ditempel di formulir
  3. fc raport smt. 1-5 dilegalisasi KEPSEK
  4. Surat keterangan tidak mampu dari desa/kelurahan (asli)
  5. surat keterangan penghasilan orang tua dari desa/kelurahan (bagi yang tidakbergaji) atau slip gaji (asli)
  6. fc Kartu keluarga
  7. fc kartu identitas
  8. bukti pembayaran listrik bulan terakhir atau SPPT PBB (bukti bayar pajak bumidan bangungan)
  9. fc piagam/sertifikat juara/prestasi dilegalisasi (jika memiliki)
  10. file digital pas foto (sesuai dengan foto yang dicetak)
  11. file digital scanan SKTM asli dan Piagam/Sertifikat asli
  12. file digital foto rumah tampak depan seluruh bagian
  13. file digital foto seluruh anggota keluarga di depan rumah
  14. file digital foto ruang keluarga
  15. file di ms.word yang isinya tentang :
Deskripsi Ayah dan deskripsi Ibu. (deskripsikan masing2 ayah dan ibu kalian tentang: usianya, rincianpekerjaan / kegiatan sehari2nya dari pagi hingga sore/malam, beban tanggungjawab, kondisi fisik/kesehatannya, dll.)(contoh: ayah saya sekarang berusia 52 tahun, sejak 20 tahun yang lalu pekerjaan beliau adalah Bertani. sebagai petani setiap hari beliau berangkat dari rumah pukul 05.30 dan pulang menjelang magrib. walau sering sakit-sakitan,beliau tetap bekerja keras karena harus menghidupi istri dan 4 orang anaknya,termasuk saya)

*Sumber: Group Bidikmisi PTN-PTS
Share:

TUHAN TAHU SEGALANYA


“Horeeee” kata itu terlontar dengan lantang dari teman-teman sekolahku sesaat setelah pengumuman kelulusan SMA, begitu pula denganku. Kebahagiaan bertebaran di seluruh sudut-sudut sekolah akibat kelulusan yang telah kami peroleh. Sebuah kebanggaan yang besar untuk dapat lulus dari jenjang pendidikan sekolah, menanggalkan bangku yang telah lama kami duduki, serta mencabut gelar “siswa” yang melekat pada kami saat itu. Sebuah penantian yang lama bagi seorang siswa, bukan. Masa remaja kamipun akan berlalu dan pintu kedewasaan akan terbuka lebar di hadapan kami. Energi masa remaja itu akan jelas tereksitasi menjadi kedewasaan yang baru.

Kebahagiaanpun terus berlanjut, hingga saatnya tiba muncul pertanyaan “lalu apa selanjutnya?”. Maka pilihan hiduppun bermunculan, apakah kami akan melangkah kejenjang studi selanjutnya atau stay on the ground, melakukan hal lain dengan gelar lulusan SMA yang telah kami miliki. Sebagai seorang anak remaja yang belum tahu dengan jelas kerasnya kehidupan, pilihan tersebut bukanlah masalah yang berarti karena bagi kami dunia dan kehidupan itu akan selalu indah untuk mereka yang sadar akan keindahannya. Itulah kami, para remaja, yang selalu memudahkan segalanya tanpa tahu badai apa yang sedang kami hadapi.

Segalanya berlalu, kebahagiaan itupun telah beranjak dariku, begitu pula dengan teman-temanku. Saatnya memikirkan masa depan kami yang belum terarah. Namun ternyata we’re not same, kami jelas berbeda, kondisi kami tidaklah sama, dan masa depan kamipun mungkin tak akan sama. Beberapa dari mereka dengan mudahnya menentukan keputusan untuk melanjutkan studi ke tingkat atas, perguruan tinggi, untuk meraih apa yang telah mereka rencanakan. Namun sekali lagi ditekankan bahwa kami bukanlah orang yang sama, “lalu bagaimana denganku?”, no one knows dan mungkin tak ada yang dapat menolongku selain keluargaku.

Akupun mulai merenungkan nasibku kelak. Bagaimana tidak, aku adalah remaja labil yang begitu terobsesi untuk meraih pendidikan setinggi dan sebaik mungkin, namun ternyata perguruan tinggi itu butuh biaya yang begitu besar, apakah keluarga kami mampu? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu rezeki seorang manusia. Bayangkan saja, aku hanyalah seorang anak yatim yang begitu tinggi ego. Aku dan keempat saudaraku harus merasakan begitu pedihnya ditinggal oleh seorang Ayah sejak kami masih kecil, bahkan untuk membuatnya bangga dengan nilai-nilai sekolahkupun belum sempat ku lakukan untuknya. Saat ini hanya doa yang dapat ku berikan untuknya, sang motivator hidupku. Sedangkan ibu kami tidaklah bekerja (seorang ibu rumah tangga) dan sepeninggalan ayah kami dia harus banting tulang dan memeras keringat untuk menghidupi kami, kelima anaknya, yang semuanya masih mengenyam bangku pendidikan, dialah sosok superhero nyata bagi kami.

Keadaan seakan tak mendukungku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, so what should i do? Entahlah, sampai saat itupun aku masih belum tahu nasib pendidikanku. Akupun berkeliling kota Anging Mamiri bersama teman untuk mencari ketenangan diri and make sure everything is okay. Hingga akhirnya langkahku terhenti pada suatu destinasi, tempat di mana kelak aku akan mengenyam pendidikan tinggi. Sebuah brosur pendaftaran mahasiswa baru tersentuh jelas di tanganku. Awalnya aku membacanya dengan biasa dan harapan yang sulit, namun seketika rahmat Tuhan seakan jatuh tepat dihadapanku. Brosur tersebut juga berisi pendaftaran mahasiswa baru melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) dengan program beasiswa Bidik Misi (beasiswa pendidikan tinggi bagi mahasiswa yang kurang mampu dan berprestasi). Seakan sebuah jalur harapan baru yang tepat bagiku. Segera aku pulang ke rumah dan melengkapi seluruh berkasku. Dengan berbekal nilai UN dan US SMA yang memadai serta sertifikat-sertifikat prestasi masa SMA yang seadanya, kumantapkan langkahku untuk maju mendekati masa depanku. Selanjutnya, ku serahkan kepada Tuhan untuk kelulusan dan masa depanku selanjutnya, karena Dia tahu segalanya.

“duk.. duk.. duk..” derap langkahku terdengar berbeda, ku pandang sekelilingku dan segalanyapun telah tampak berbeda dari sebelumnya. Waktu dan haripun jelas telah berlalu, begitu pula dengan kehidupanku. Aku mungkin masihlah seorang remaja labil yang terkadang belum tahu dan siap untuk kedewasaan yang segera menghampiriku, tapi setidaknya aku bukan lagi anak remaja yang mengenakan seragam putih abu-abu saat belajar. Aku akhirnya dapat berdiri tegak di tingkat pendidikan tinggi, menyentuh almamaterku, dan membanggakan diriku yang lebih maju. Perjalananku belum berakhir, it’s definitely not over, aku harus menyelesaikan apa yang telah aku mulai sebelumnya untuk sebuah gelar yang diimpikan oleh setiap orang, yah gelar sarjana tentunya. Aku akan melangkah bersama keluarga tercintaku, bersama teman-teman baruku, dan tentunya bersama penopangku, Bidik Misi. Terima kasih untuk Tuhanku, diriku, keluargaku, teman-temanku, dan pemerintahku. Terima kasih Bidik Misi.
Tuhan tahu siapa yang berhak untuk hidup, Tuhan tahu siapa yang berhak untuk maju, dan Tuhan tahu siapa yang berhak atas rahmat-Nya. Maka belajarlah.

*Oleh: Dipo Ade Putra Is (Mahasiswa Jurusan Kimia 2011)


Share:

RENCANA TUHAN YANG TIDAK PERNAH TERBAYANGKAN


Kata Bidikmisi pertama kali saya dengar ketika saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Saya masih bertanya-tanya, apa sih Bidikmisi itu? Karena keingintahuanku akhirnya saya tahu kalo Bidikmisi itu beasiswa untuk siswa yang berprestasi dalam bidang akademik, namun tidak mampu secara ekonomi. Biaya kuliah dibebaskan dan diberikan tunjangan atau biaya hidup.  Sempat terlintas dibenakku “wah, beruntung sekali yah yang dapat itu, bisa kuliah gratis hehe..” pengen juga, kataku. Aminkan aja deh J. Waktu terus berjalan, gak kerasa udah kls 3 SMA. Setiap kali aku lewat di didepan mading, aku selalu tersenyum ambil berdoa mudah-mudahan suatu saat namaku juga bisa ditulis dimading itu sebagai penerima Bidikmisi, sekali lagi saya Aamiinkan.

Saya sering searching bersama guru dan teman-temanku mengenai kuliah, walaupun sebenarnya saya tidak pernah berharap terlalu besar untuk bisa melanjutkan kuliah, karena saya sadar kondisi ekonomi keluargaku tidak mampu untuk itu. Namanya juga sudah kelas 3 SMA, pastilah teman-teman udah saling nanya maunya lanjut dimana? Tidak terkecuali keluarga dan tetangga-tetanggaku. Setiap kali ditanya mengenai hal itu responku selalu sama, senyum dan berkata belum tau . karena memang saat itu saya belum tau dan bahkan belum ada rencana mau kuliah dimana. Walaupun sesekali pernah terlintas dibenakku pengen kuliah di Universitas dan dijurusan itu. Tapi sekali lagi harapanku untuk itu tidaklah terlalu tinggi, takut nantinya sakit hati.

Ternyata respon ibuku setiap kali saya tanya mengenai kuliah tidak berbeda jauh dengan apa yang saya pikirkan. Suatu malam saya sempat cerita-cerita dengan ibuku, saya masih sangat ingat ketika saya menyinggung masalah kuliah. Sedih sekali mendengar kata-katanya sampai-sampai air mataku mengalir. “ sabar dan berdoa saja Nak, supaya bisa dapat beasiswa untuk kuliah kalo memang rejeki pasti tidak bakal kemana”. Sedih dan agak kecewa dengan pernyataan ibuku itu, tapi apa daya memang begitulah keadaan keluargaku. Hidup serba pas-pasan bahkan kekurangan sudah biasa saya jalani. Terkadang kesekolah hanya membawa uang Rp. 2.000-, Yah saya bersyukur, paling tidak bisa dipakai untuk ongkos angkot. Mengingat jarak antara rumahku dan sekolah yang lumayan jauh, yang penting udah sarapan dirumah. Kalau pas waktu istirahat diajak ke kantin sama teman-teman, aku bilang aja kenyang walaupun kadang saya merasa lapar juga. Tapi itulah hidup, saya yakin Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah untukku. Tidak banyak yang tahu perasaanku saat itu, ketika keinginanku ingin merasakan yang namanya kuliah dan kenyataan bahwa orangtuaku tak mampu untuk itu. Sabar dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa rezeki tidak akan kemana.

Hari-hari terus berlalu, disetiap sujudku ku selalu berdoa agar Allah memberiku jalan agar bisa melanjutkan kuliah. Tiba saatnya pendaftaran SNMPTN, sebelumnya Wakil kepala sekolah memang pernah menjelaskan bahwa ada seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri Tanpa melalui tes (Bebas tes) yaitu SNMPTN, dan akan ada beberapa orang yang akan direkomendasikan untuk mendapat Beasiswa Bidikmisi. Walaupun katanya Seleksi SNMPTN dengan Rekomendasi Beasiswa Bidikmisi kemungkinan kelulusannya lebih kecil tetapi saya tetap berharap semoga saya termasuk salah satu diantara siswa yang akan direkomendasikan Beasiswa tersebut. Setelah nilai rapor diseleksi, keluarlah 42 nama yang berhak ikut seleksi tersebut dan 15 diantaranya direkomendasikan sebagai caalon penerima Bidikmisi. Alhamdulillah ternyata namaku ada diantara 15 nama tersebut. Mataku berkaca-kaca karena begitu bahagia walaupun ini baru awal dari seleksi, tapi setidaknya sudah asa setitik  cahaya terang yang bukan tidak mungkin akan menjadi mentari yang akan menyinari jalanku untuk melangkah lebih jauh.

Waktu terus berjalan, tanpa terasa pengumuman SNMPTN telah tiba, hati ini terasa begitu gelisah dengan hasil itu. Di tanggal 25 Januari 2012 seingatku sehabis magrib Handphone ku berdering, ternyata telpon dari teman kelasku. Hm, ini pasti mengenai hasil SNMPTN, saya langsung menjawab telpon itu. “Halo, kenapa Mira?” jawabku, “Dian, hasil SNMPTN udah keluar dan saya tdk Lulus”. “Ah. Masa? Sabar yah “ balasku. “ iya, sebutkan kode dan tanggal lahirmu Dian, saya liatkan. Saya langsung menyebutkan Kode dan tanggal lahirku. “ Kamu lulus dian, Pendidikan Sejarah di UNM”. “Alhamdulillah yah Allah, makasih yah Mira saya tutup dulu telponnya”
Saya langsung sujud syukur dan langsung memberitahu kabar gembira ini kepada nenekku, karena kebetulan saat itu ibuku sedang ke toko. Saya langsung memeluk sang nenek yang saat itu beliau sedang sakit dengan air mata bahagia yang tak bisa saya bendung. Nenekku juga begitu bahagia mendengar kabar ini “akhirnya doamu terkabul Nak, dan kamu bisa lanjut kuliah” ucap Nenekku. Tapi saya begitu sedih bila mengingat hal itu, karena nenekku tidak sempat melihat aku masuk kuliah. Sebab hanya berselang beberapa minggu stelah pendaftaran ulang, Nenekku dipanggil oleh sang kuasa. Sedih dan sangat kehilangan L .

Karena saya masih penasaran karena belum melihat sandiri hasilnya. Saya segera ke warnet dan melihat sendiri hasinya. Ternyata saya benar-benar lulus, Alhamdulillah Ya Allah. Berselang beberapa minggu, akhirnya pendaftaran ulang dilakukan. Saya ditemani ayah mengikuti rangkaian pendaftaran ulang yang prosesnya cukup melelahkan. Dan akhirnya hari terakhir saya diberikan NIM dan resmi terdaftar di UNM. Dan inilah jawaban tuhan atas segala doa-doaku dan doa orangtuaku tentunya.

Kini aku telah memasuki semester IV, beasiswa bidikmisiku saat atur agar bisa memenuhi kebutuhan kuliahku termasuk untuk biaya hidupku di Makassar. Karena Jurusan yang saya pilih memiliki praktek lapangan tiap semesternya dan dana Bidikmisi ini begitu membantu ku sehingga saya tidak perlu lagi merepotkan orangtuaku untuk meminta biaya penelitian.

Satu hal yang saya tahu bahwa ternyata Bidikmisi ini merupakan beasiswa pertamaku semenjak aku sekolah. Saya sangat bersyukur Allah memberiku rezeki untuk melanjutkan kuliah melalui Bidikmisi, meskipun masih kadang terpaksa harus minta uang di Orangtua ketika dana Bidikmisi terlambat dicairkan sedangkan kebutuhan sudah mendesak. Tapi saya tidak terlalu mengeluhkan hal itu, bagiku semuanya butuh proses dan itu artinya saya harus bersabar. Yang harus saya lakukan terus berdoa dan belajar agar bisa berprestasi dan membuat kedua Orangtuaku bangga.


TERIMA KASIH YA ALLAH, TERIMA KASIH BIDIKMISI

*Oleh: Dian Ekawati (Prodi Pendidikan Sejarah FIS UNM, angk. 2012)
Share:

Goresan Abadi Dalam Rajutan Mimpi Bersama Bidik Misi

“sebuah lukisan pena abadi dalam untaian kata untuk persembahan terima kasihku pada Bidik Misi yang telah memberi seberkas cahaya terang pada gelapnya lorong hidup yang kuarungi, sehingga aku dapat berjalan dalam kegelapan itu menuju mimpi yang kurajut dalam bingkai kesederhanaan”

Sepenggal cerita terbesit dalam memori ketika rasa itu hadir dalam koridor hati dan jiwa yang hampa.Sembilan belas tahun silam adalah waktu yang cukup lama kuarungi dengan beragam cerita yang silih berganti hadir memberi warna bagi hidupku.Mungkin terlalu lebay (kata anak muda zaman sekarang) jika menggunakan kata-kata seperti itu, namun aku tidak bisa mengubahnya menjadi bahasa formal yang tidak mengandung unsur ke-lebay-an. aku punya segudang cerita hidup yang terkadang menyisahkan sedikit bekas luka namun bermakna.Cerita itu lahir dari untaian langkah kehidupan yang meninggalkan jejak layaknya bekas pijakan sepasang kaki ketika melangkah dalam tanah berlumpur.Setiap pijakan itu meninggalkan tanda yang mungkin punya makna tersendiri. Seperti itulah hidup yang kita lalui ketika berjalan dari satu masa ke masa yang lain, makaakan lahir cerita baru tentang apa yang baru saja kita alami.

Sepanjang perjalanan itu akan banyak cerita yang terpatri, entah cerita tentang suramnya kehidupan, tentang derita yang tak kunjung lenyap dari ingatan, tentang kisah hidup dalam dinamikakesederhanaan, cerita masa kecil yang tak ada habisnya, atau mungkin juga tentang perjalanan panjang seorang pemimpi dalam mewujudkan mimpinya. Pemimpi yang berkelana ke bumi pertiwi yang tak pernah dikunjungi sebelumnya.Hanya berbekal sepasang tongkat kesederhanaan dan sebongkah pikiran beralaskan tekad yang kuat, pemimpi itu pamit dan berangkat menyusuri setiap lembah kehidupan dan memecahkan teka-teki kehidupan yang dihadapi.Bukan hanya itu, cerita tentang raut wajah senyum yang terpancar sebagai efek dari roman bahagian pun kadang pula menjadi pemandangan tersendiri yang kita lalui dalam perjalanan hidup kita.Entah bahagia karena apa, itu tergantung dari pribadi masing-masing bagaimana mempersepsikan bahagia itu seperti apa dan bahagia itu kapan, “bahagia itu sederhana karena pada dasarnya yang menciptakan kebahagiaan itu adalah kita sendiri”.

Sebelum jauh bercerita, aku akan memperkenalkan diriku pada kalian yang sempat memalingkan wajah menyimak untaian kata yang tergores dalam lembaran putih ini, nama lengkapku Jamaluddin Gesrianto A., orang-orang biasa menyapaku dengan panggilan Jamal. Aku lahir Sembilan belas tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 15 Juni 1994 di sebuah perkampungan kecil di pelosok desa yang penuh dengan kerikil tajam, dikelilingi gunung dan lembah berbalut awan putih tebal seperti salju di kutub utara. Desa Gandangbatu namanya, sebuah desa yang ada di pegunungan Tana Toraja yang sekarang telah diresmikan  menjadi sebuah kecamatan. Tepat berada di ujung selatan Kabupaten Tana Toraja dan berbatasan dengan kabupaten Enrekang.Aku lahir dari sebuah keluarga kecil dan sederhana, ya, aku dilahirkan dalam kesederhanaan dan juga dibesarkan dalam keserderhanaan, namun dari kesederhanaan itu aku belajar untuk hidup.Aku adalah anak seorang petani dari dusun Sangrandanan, ayah dan ibuku bekerja sebagai seorang petaniyang dalam kesehariannya mereka menghabiskan waktunya bergumul dengan kebun dan sawah, namun aku bangga memiliki mereka.Mereka adalah orang-orang hebat yang kumiliki, mereka adalah pahlawan hidupku yang telah menghabiskan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk memberi sesuap kebahagiaan pada kami anak-anaknya.Hobbiku adalah bermimpi dan berpetualang dengan alam bebas, namun pemimpi yang tidak hanya sekedar bermimpi tetapi menjadikan mimpinya sebagai motivator untuk meraih kesuksesan.

Aku menghabiskan masa kecilku bercengkrama dengan alam bebas dalam suasana layaknya anak kampung dan mulai menginjakkan kaki di dunia pendidikan pada tahun 2001 di SDN 142 INP.Gandangbatu dan tamat tahun 2006. Setelah tamat jenjang sekolah dasar, aku melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama di SMP Kr. Gandangbatu tahun 2006 dan tamat tahun 2009. Kemudian aku meninggalkan kampung halamanku untuk mengejar mimpi-mimpiku. Aku melanjutkan sekolahku di salah satu sekolah unggulan sekaligus favorit di kota Makale tepatnya di SMA N 3 Makale. Selama tiga tahun aku menghabiskan waktuku untuk membedah setiap ilmu pengetahuan yang kudapatkan sebagai ukiran abadi dalam merangkai masa depan. Dan alhamdulillah pada tahun 2012, aku menyelesaikan studiku di bangku sekolah.

Beragam peristiwa yang mungkin hadir ketika masa lalu hanya sebatas kenangan dan kemudian menghadirkan sebuah ilustrasi masa depan yang akan menjadi nyata. Ada sebuah kisah yang telah mengambil sebuah tempat abadi dalam memori jiwaku.Kisah yang mungkin juga adalah sebuah kenangan abadi yang sempat tergores ketika aku masih duduk di bangku sekolah dengan seragam putih abu-abu. Saat ini, sebagian hidupku yang tidak lain adalah masa depanku dan juga mimpi-mimpiku telah kugantungkan pada kisah itu. Aku berharap cahaya terangnya tetap ada untuk menyinari lorong gelapku agar aku bisa berjalan dalam kegelapan itu untuk menemukan mimpiku. Dia adalah BIDIK MISI. Ketika mendengar kata itu, pikiranku kembali ke masa satu tahun yang lalu, dimana pertama kali aku mengenalnya.saat itu aku masih duduk di bangku sekolah tepatnya di kelas dua belas.

Seorang guru matematikaku saat itu menyampaikan sebuah pengumuman tentang nama-nama yang direkomendasikan oleh sekolah untuk mengikuti penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi melalui jalur undangan.Diantara deretan nama yang di sebut, salah satu nama yang disebut adalah namaku, seharusnya aku bahagia karena bisa terpilih dari sekian banyak nama yang ada namun kenyataannya tidak demikian. Aku malah berbalik memandang teman-temanku yang mulai memperlihatkan muka kecewanya karena namanya tidak disebut dalam pengumuman itu.Aku berpikir bahwa aku telah menghalangi mereka untuk kuliah, seandainya tidak ada namaku di pengumuman itu, mereka masih punya satu kesempatan untuk terpilih juga karena meskipun nantinya aku lulus di perguruan tinggi, aku tetap tidak bisa kuliah.Memang selama sekolah, aku tak pernah membayangkan aku bisa menginjakkan kakiku di perguruan tinggi.

Aku tidak berpikir untuk kuliah bukan karena tidak mau, tetapi lebih karena aku mengerti tentang kondisi ekonomi keluargaku. Aku kasihan melihat perjuangan ayah dan ibuku yang susah payah menyekolahkan aku sampai SMA. Menurutku, sekolah sampai SMA sudah cukup untukku.Aku tak mau lagi membebani kedua orang tuaku. Aku tahu bagaimana perasaan mereka ketika tiba waktunya dulu aku akan membayar uang sekolah. Terpancar jelas di raut muka mereka beban yang sangat berat meskipun mereka tetap tersenyum, namun aku mengerti bagaimana derita yang mereka pendam di balik senyumnya itu.Mereka sering mengatakan aku baik-baik saja ketika aku bertanya tentang keadaannya, namun aku tahu mereka pasti menyembunyikan sesuatu rasa sedihnya. Saat laparpun demikian, mereka akan kenyang ketika melihat kita makan meskipun perutnya kelaparan. Semua orang tua mungkin memang demikian, itulah alasan mengapa aku menyebut kedua orang tuaku sebagai pahlawan hidupku.Mereka telah melahirkan aku, membesarkan aku, bahkan mereka telah memeliharaku sampai aku besar seperti sekarang.

Lanjut cerita, saat namaku telah terdaftar sebagai salah satu siswa yang direkomendasikan oleh sekolah untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi dengan jalur undangan, pikiranku berbalik arah, sejak pertama kali diumumkan roman mukaku tidak begitu bahagia, namun saat aku mendengar bahwa aku terdaftar untuk direkomendasikan dalam jalur undangan itu sebagai penerima Beasiswa Bidik Misi, aku cukup lega mendengarnya. Aku juga sempat memberitahukan hal ini kepada kedua orang tuaku dan merekapun sangat mendukung niatku itu.Di raut mereka terpancar jelas rona bahagia karena mereka punya harapan besar agar aku bisa menyelesaikan pendidikanku dengan beasiswa Bidik Misi itu. Namun saat pengumuman, diantara deretan nama-nama yang diterima di perguruan tinggi melalui jalur undangan, tidak ada namaku yang tercantum pada surat pengumuman itu. Aku sempat putus asa dan kecewa atas keputusan itu.Aku telah memberikan harapan besar pada seleksi itu, namun hasilnya mengecewakan.

Saat aku memberitahukan kedua orang tuaku tentang hasil seleksi itu, raut muka mereka sempat padam oleh rasa sedih, namun hanya dalam waktu singkat raut muka itu kembali dengan raut muka yang meyakinkan.Mereka meyakinkanku bahwa kegagalan itu adalah awal dari keberhasilan dan kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda.Aku sangat terpukau oleh kata-kata mereka.Aku sadar bahwa kegagalan itu bukan untuk direnungi namun harus segera mungkin untuk dikendalikan.Aku sering mengatakan bahwa gagal satu kali itu wajar karena itu adalah sebuah pengalaman yang luar biasa seperti kata orang bijak, pengalaman adalah guru yang paling baik.Jadi, dari kegagalan itu kita bisa belajar untuk bangkit dari keterpurukan. Aku percaya bahwa dibalik usaha akan ada hasil. Ketika kita berusaha untuk meraih apa yang kita inginkan, niscaya Tuhan akan selalu bersama dengan orang-orang yang mau berusaha.

Ingat nak, “Ketika kamu gagal pada jalur undangan, bukan berarti kamu telah berhenti untuk berjuang”, itu adalah kata-kata orang tuaku saat itu. Akhirnya dengan tekad yang kuat untuk terus berjuang dengan dorongan dari sang motivator terhebat yaitu pahlawan hidupku, aku mencoba lagi mendaftar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) masih dengan tiket Bidik Misiku. Dan Alhamdulillah aku diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang terkemuka di Makassar.Aku diterima pada program studi Pendidkan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar (UNM). Aku sangat bersyukur karena bisa terpilih diantara ribuan nama yang mendaftar. Terlebih lagi karena aku diterima dengan beasiswa Bidik Misi. Sujud syukurku tak hentinya ku panjatkan kepada sang Khalid yang telah mencurahkan Rahmat dan HidayahNya sehingga aku bisa lulus. Aku juga berterima kasih kepada kedua orang tuaku, sang pahlawan hidupku dengan segala doa-doanya, dengan segala petuah-petuahnya, dengan segala nasehatnya. Terima kasih ayah !terima kasih ibu !. kalian adalah sosok terhebat yang pernah kukenal, kalian adalah hal berharga yang kupunya, dan kalian adalah pahlawan hidupku yang tak henti-hentinya mencurahkan kasih sayangnya untukku. Terima kasih juga kepada kakak-kakak dan adik-adikku atas segala doa dan dukungan kalian semua aku bisa berjuang untuk menata masa depanku. Juga kepada keluargaku dan kepada semua yang pernah mengenalku, terima kasih atas perkenalan itu meski hanya sebatas perkenalan.Aku berjanji akan membalas semua yang kalian berikan padaku. Mungkin aku tak bisa membalas semuanya, namun setidaknya senyum yang selama ini terpancar dari raut wajah kalian bisa kekal abadi dalam jiwaku untuk kujadikan sebagai obat penawar disaat aku gundah.

Penyambutan Mahasiswa Baru di gedung Celebes Convention Center (CCC) adalah awal dimana aku resmi menjadi mahasiswa UNM dengan almamater orangenya sebagai lambang kebanggaanku dan Menara Phinisi sebagai icon kegagahannya.Kurang lebih satu tahun aku telah menghabiskan waktuku menimba ilmu di Universitas Negeri Makassar tercinta ini.Sekarang aku memasuki tahun kedua di kampus ungu, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM pada semester empat.aku datang untuk menunaikan kewajibanku yang kini kusandarkan pada sesosok cahaya untuk hidupku. Semoga cahaya itu tetap terang menyinari langkahku menuju masa depanku. Hitam pada gelapnya lorong yangakan kuarungipun aku bagikan pada pemiliki cahaya terang itu, biarkan dia yang menuntun cahayanya untuk menerangi lorong hidupku hingga aku menemukan mimpiku yang terpendam di sudut malam itu. Sekali lagi cahaya terang itu adalah Bidik Misi.Aku bersyukur karena hadirnya.Bidik Misi yang telah membantuku untuk menggapai mimpi-mimpiku.Bidik Misi bagaikan sebuah cahaya terang yang tiba-tiba hadir dalam gelapnya lorong hidupku. Bidik Misi kemudian menyalahkan api terangnya hingga aku bisa berjalan dalam kegelapan itu menuju masa depanku dan meraih mimpi-mimpi besarku yang selama ini terpendam di sudut malam sana. Bidik Misi hadir sebagai sandaranku saat aku tak bisa lagi bangkit dari keputus asaanku.

Aku berceloteh malam ini, aku bercerita pada malam dan rembulannya yang baru saja menampakkan wajahnya saat senja telah beranjak dari tempat kediamannya.Aku mencurahkan sedikit rasa gembiraku dan juga rasa kagumku pada Bidik Misi karena hadirnya kini mengubah mimpi-mimpi anak bangsa yang selama ini terpendam menjadi kenyataan.Bidik Misi telah memberikan sebongkah rasa bahagia di wajah anak-anak bangsa.senyuman yang terpancar dari para laskar ilmu dan pasukan pembawa perubahan sebagai generasi penerus bangsa hadir kembali dalam roman yang sangat jelas kelihatan. Semangat mereka kembali terpatri dalam hati sanubari dengan tekad yang bulat untuk merangkai masa depannya masing-masing. Hidup dalam kesederhanaan adalah prinsip hidup mereka karena merekapun tahu bahwa hidup sederhana bagi mereka adalah ladang subur untuk mimpi yang mereka rajut di masa depan.

Kupandangi malam dengan kilauan seribu bintang, kudengarkan bisikan malam dan rayuan manja sang rembulannya. Kupejamkan kedua bola mataku dan kurasakan belaian angin malam yang mengantarku pada sebuah kota kecil tak berpenghuni. Hanya ada aku dan sebuah cerita yang terlukis pada secarik kertas putih dengan goresan pena abadi yang sungguh indah. Aku tak tahu betul apa isi dari tulisan yang ada pada secarik kertas itu, hanya ada sepasang kata yang maknanya cukup dalam untuk aku teropong dengan kedua bola mataku. Aku tak begitu tahu makna kata itu, namun aku sedikit mengerti artinya.Ketika aku menundukkan sedikit badanku untuk mengambil tulisan itu, tiba-tiba angin datang menyambarnya dan membawanya entah kemana.“Bidik Misi”, ya hanya kata itu yang sempat terbesik di hatiku ketika secarik kertas itu berlalu bersama tiupan angin yang membawanya kesudut malam.Saat aku terbangun, aku baru sadar ternyata hari ini deadline pengumpulan secarik cerita tentang curhatan Bidik Misi.Akupun melanjutkan merangkai kata demi kata untuk kujadikan sedikit cerita tentang Bidik Misi dan akhirnya cerita yang terangkai itu jadi seperti ini.


Sebelum aku menutup sedikit coretanku tentang Bidik Misi ini, ijinkan aku sekali lagi berterima kasih pada Bidik Misi yang telah memberikanku secarik harapan untuk kujadikan lukisan abadi dalam jiwaku, biarkan lukisan itu tetap abadi terpajang disudut ruang hatiku dan kuceritakan esok pada anak-anakku. Terima Kasih Bidik Misi ! Terima Kasih…

*Oleh: Jamaluddin Gesrianto A. (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)
Share:

Kamis, 30 Januari 2014

Merajut Mimpi Bersama Bidikmisi



Tuhan tahu bagaimana Tulus..
Tuhan tahu bagaimana Ikhlas..
Tuhan tahu bagaimana Tulus dan Ikhlas menjadi manis..
Seperti penantian pagi pada sang pencerah hari
Seperti penantian siang pada terik yang kian  menarik
Seperti penantian senja  pada langit  yang lembayung
Seperti Penantian malam pada bintang bertabur kerlip yang indah.

Tentang harapan dan penantian
Tentang mimpi di senggang waktu   
Tentang cita-cita, kesederhanaan dan kedermawanan
Tentang makna soal memberi
Tentang angan yang menjadi harapan

Merajut mimpi bersama Bidikmisi

Meresapi untaian perjalanan yang mungkin panjang
Izinkan aku menulisnya. Untuk sesuatu yang benar-benar berarti dalam hidupku. Kumulai surat ini dengan perkenalan terlebih dahulu. Nama saya Sriwidayani Syam, sering dipanggil Anhy. Anak ke 2 dari 3 bersaudara. Sekarang sedang menempuh pendidikan di Jurusan Biologi International Class Programme  pada salah satu universitas ternama di Indonesia timur, Universitas Negeri Makassar tepatnya.
Saya tidak tahu bagaimana mengawali tulisan ini. Di luar sana hujan menari dengan rinainya. Hujan adalah stimulus paling tepat untuk mengingat memoar-memoar di masa silam.  Ingin ku katakan bahwa rinai hujan kali ini  membawaku kembali me-review sebuah perjalanan hidup, perjalanan hati yang ku alami selama 2 tahun terakhir ini. Tak terasa dan ingin kukatakan bahwa manusia memang tak pernah menebak bagaimana  waktu akan membawanya  pada masa yang disebut beruntung.  Waktu merupakan penasihat paling bijak yang pernah ada.
Masih teringat dengan jelas, 2 tahun lalu. Yah tepatnya januari 2012. Saya masih duduk di bangku SMA dan berstatus sebagai siswa semester akhir saat itu. Bukan tidak mungkin bahwa ketika seorang siswa sudah berada pada semester akhir maka mereka akan berfikir tentang masa depannya. Masa depan yang mana? tentunya masa depan tentang dimana mereka akan melanjutkan jenjang pendidikan. Begitupun aku.
Melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bagi siswa-siswa yang keluarganya berkecukupan sih tidak ada masalah, “Its fine for them “ mereka tinggal memilih tempat kuliah, kemudian berproses didalamnya.. Lantas bagaimana dengan siswa yang penghasilan orang tuanya di bawah rata-rata? Apakah masih bisa dibilang? “Its fine” ?. Kupikir tidak.
Seperti halnya saya, saya berasal dari keluarga sederhana. Ayah saya seorang petani dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Satu dari sekian banyak hal yang kupahami bahwa hidup dalam kesederhanaan tidak lantas membuat kami gegabah.
“Bersyukur meski tak cukup” kurang lebih seperti ini kata-kata yang selalu dilontarkan ayah kepada kami, pengikutnya.

Karena hidup adalah  berjuang...
Meresapi perjalanan hati selama beberapa tahun ini, jatuh bangun sudah biasa. Menapaki kerikil yang tajam, atau bahkan melewati jurang-jurang yang seakan menjadi penentu kehidupan. Kusebut ini sebagai perjalanan hati. Perjalanan yang meminta hati untuk bersabar atas sesuatu yang berbuah manis.
“Hidup bukan hanya soal  harta, jabatan, pangkat,dll. Masih banyak hal yang lebih penting dan bermakna yang bisa kita lakukan”
kalimat ini adalah salah satu dari sekian  banyak makna penting dari film 3 idiot, dan benar saja jika kita memandang hidup hanya sampai pada batas materi saja, maka hidup kita tak lagi menjadi hidup. Hidup akan indah jika kita tahu cara untuk hidup. Berusaha, berdo’a, berbagi, dan bersyukur adalah beberapa hal yang menjadi penting.
            Pada suatu waktu yang ku sebut awal perjuangan. Waktu yang menjadi saksi atas usaha yang berbuah manis. Awal bulan maret 2012 menjadi salah satu momen tersibuk untuk siswa semester akhir yang akan berjuang melanjutkan studi. Di sela-sela ujian akhir yang menanti, kami disibukkan dengan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pendaftaran masuk perguruan tinggi negeri yang saat itu disebut dengan istilah SNMPTN jalur undangan. Jalur SNMPTN yang satu ini memang di urus jauh sebelumnya. Bahkan sebelum Ujian nasional terlaksana. Berkas demi berkas disiapkan, juga jurusan yang akan menjadi tujuan pun di input. Setelah semua itu, kami hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Rasa percaya diri untuk lulus saat itu bisa dikatakan tinggi dikarenakan nilai rapor yang menjadi titik acuan saat itu juga mendukung.
Tiba saatnya pengumuman SNMPTN Jalur undangan.
Segera ku buka pengumumannya dengan memasukkan Pin dan Password saat itu.
“Maaf, Anda belum lulus seleksi SNMPTN Jalur undangan” kurang lebih seperti ini kata-kata yang muncul pada layar monitor di depanku.
Rasanya seperti meneguk kopi pekat tanpa gula sebutir pun, “Pahit”. Ekspresi wajah hanya Diam, seakan ingin teriak tapi bisu, Ingin berlari tapi lumpuh.
Kecewa? Nggak usah ditanya
Down? Sudah pasti
Pertanyaan terakhir:   
Menyerahhhh???
Hampir ku katakan “Iya”. Tapi teringat sama kata-kata ini: 

“Saat Anda ingin menyerah, ingatlah kembali alasan mengapa selama ini Anda bertahan. Gagal itu biasa, tapi kegagalan yang sesungguhnya adalah saat kita menyerah dan berhenti mencoba”


Well, lupakan yang telah berlalu. Berhenti meratapi kegagalan. Sekarang menatap kedepan. Perjuangan dimulai kembali.
Hari-hari kembali disibukkan dengan pengurusan SNMPTN jalur tulis. Untuk mendaftar SNMPTN Tes tulis harus memiliki Pin yang tentunya di ambil dari bank yang berbayar.
Kegalauan kembali melanda, dimana lagi aku harus meminta uang untuk membeli Pin SNMPTN Itu. Tiba-tiba kabar tentang pengurusan beasiswa mulai terdengar. Katanya ada pengurusan beasiswa bidikmisi dari pihak sekolah. Tanpa berfikir panjang saya langsung tersenyum dan mengurus segala berkas yang di perlukan lalu menyetornya ke pihak sekolah. Hari-hari terasa cukup panjang karena harus melengkapi semua berkas-berkas tersebut. Bahkan terkadang di pingpong kemana-mana untuk pengurusan berkas-berkas yang diminta.
Tak ada hal lain kecuali tetap semangat dan berusaha. Alhasil, Pin bidikmisi telah ditangan dan saya segera menuju warnet untuk mendaftar secara online. Saya memilih jurusan Biologi. Program studi Pendidikan Biologi International class programme (ICP) di pilihan pertama, dan pendidikan biologi reguler di pilihan kedua. Pilihan ini masih pilihan yang sama ketika saya mendaftar SNMPTN Jalur undangan. Cukup nekad juga mengambil prodi ICP yang bayarannya mahal dengan Cuma mengandalkan beasiswa yang notabene untuk orang yang kurang mampu. But Nothing is impossible kan? Tidak ada salahnya mencoba. Percaya saja bahwa tuhan selalu bersama orang-orang yang berusaha. Masuk di kelas ICP adalah impian. Maka ingin kugapai impian tersebut. Setiap hari saya belajar. Menaklukkan soal-soal yang terkadang memusingkan. Lalu mengikuti tes SNMPTN dengan segala persiapan.

Ia Serupa Seteguk Air di Padang Tandus
Tes telah dilalui. Sekarang tinggal menunggu pengumuman dan berdoa. Tepat hari sabtu, 7 juli 2012 Pengumuman SNMPTN Jalur tulis. Momen yang ditunggu-tunggu para pendaftar. Saat itu beda, saya tidak langsung mengecek pengumuman melainkan justru tidak mau melihat pengumuman karena takut kecewa untuk kedua kalinya.Handphone dimatikan dan tetap stay di dalam rumah. Setelah beberapa jam vakum akhirnya kuputuskan untuk menghidupkan HP dan membuka Facebook. Sosial media diramaikan dengan topik pengumuman SNMPTN. Beberapa teman yang sudah mengecek pengumuman pun mulai menumpahkan segala emosi lewat sosial media. Ada yang bersorak gembira karena lulus, ada juga yang semakin sedih karena belum lulus.
Sementara saya? Masih belum berani membuka pengumuman. Jam demi jam berlalu dan akhirnya kuputuskan untuk membuka pengumuman. Telah kutanamkan dihatiku bahwa apapun hasilnya, itulah yang terbaik.
Menginput Pin dilanjutkan password  dengan degupan jantung yang seolah berdetak 3 kali lipat lebih kencang  dari biasanya, sambil menunggu hasilnya terbuka dengan muka ditutup dengan kedua tangan namun masih bisa melihat di sela-sela jari..
1...2...3

“PESERTA DENGAN NOMOR 112-80-00959,
SELAMAT ANDA LULUS PADA JURUSAN BIOLOGI INTERNATIONAL CLASS PROGRAMME”

Senyum merekah, bahagia, ia serupa seteguk air di padang tandus. Makasih Tuhan, makasih ayah, ibu, kakak, adek, makasih semua.
Satu hal yang kupelajari bahwa setiap usaha yang tulus akan membuahkan hasil. Sabar itu pahit, tapi buahnya manis. Percayalah.
Lihat saja, Jurusan yang kupilih sama, universitas yang dituju pun sama. Perbedaanya adalah kali ini saya lulus dengan beasiswa Bidikmisi ditangan. Tuhan selalu menunjukkan hasil dari sebuah usaha pada masa yang tepat. Saya pun pernah berfikir bahwa tuhan tidak adil. Tuhan tidak menyayangiku. Tapi terbukti sekarang, hanya saja kita butuh bersabar dalam sebuah penantian yang mungkin panjang.

Merajut Mimpi Bersama Bidikmisi...
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”. Sebuah kalimat yang ku kutip dari film sang pemimpi.
Setiap orang punya mimpi, setiap orang punya harapan. Karena mimpi dan harapan adalah serangkai kata yang padu. Jika mimpi dan harapan itu ada, maka bersiaplah untuk berpacu. Pastikan kita akan menjadi pemenang dari  mimpi-mimpi kita.
Selalu ada jalan untuk orang yang mau berusaha, maka ingin kukatakan bahwa aku akan  merajut mimpi bersama Bidikmisi. Dalam kesederhanaan aku belajar banyak hal. Dalam kesederhanaan aku belajar berbagi, memberi makna soal memberi. Dan dalam kesederhanaan aku belajar Menjadi pribadi yang penuh visi untuk masa depan yang bergengsi bersama bidikmisi. Terima kasihku untuk bidikmisi. Sebuah penghargaan sebagai baktiku untukmu.

*Karya: Sriwidayani Syam (Mahasiswi Jurusan Biologi ICP'2012)


Share:

Selasa, 21 Januari 2014

Kutitipkan Surat untukmu Nak


Hari-hari telah berlalu dengan cepat
Dipertengahan tahun 2010 lalu
Kuteringat pada sebuah kenangan yang tertuang dalam mimpi
Menyeret nalarku untuk mengingatnya kembali
Memory yang telah usai itu

Sebuah baju kusam berwarna putih abu-abu
Terlatak disebuah lemari rumahku
Tertulis namaku disisi kiri baju itu
Memilukan hati menggoreskan jiwaku

Hari-hari terasa makin sepi
Perpisahan kini telah nyata terjadi
Orang-orang terdekatku pergi entah kemana
Dan akhirnya tiba saatnya
Dua wajah yang sangat kucinta akan kutinggalkan
Menuju sebuah kota yang tak pernah kukunjungi sebelumnya
Mengejar semua mimpi-mimpi indah

Dua wajah itu menesehatiku dalam-dalam
Memberiku bekal perjalanan apa adanya
Aku tak dapat menahan tangis yang membasahi wajahku
Bus perlahan mulai berangkat
Desa-desa kenangan kutatap penuh rasa
Desa-desa akhirnya menghilang satu persatu

Beberapa hari aku dikota
Ada sepucuk surat kusam dari wajah yang kucinta itu
Ayah menulisnya untukku
Ayah dalam keadaan yang kurang sehat
Walau begitu Ayah tetap berusaha berdagang
Untuk masa depan aku dan adik-adikku

Sampai saat ini
Supucuk surat itu masih kusimpan
Akan kubaca ketika aku dalam keadaan susah dikota ini
Aku ingin memberikannya kepada ayah
Ketika studiku telah usai
Aku akan mengatakan padanya
Bahwa sepecuk surat inilah
Yang mengingatkanku kepada ayah


Manuruki, 16 Januari 2013
—Muhammad Aslansyah
Share:

Selasa, 07 Januari 2014

Karena Bidikmisi Saya Jadi Mahasiswa

Sejak di SMA saya bercita cita menjadi seorang professor. Dimana ini terinspirasi dari seorang tokoh yang menjadi kebanggaan saya semasa sekolah dulu. Hal ini juga yang memotivasi saya untuk bersungguh sungguh untuk meraih prestasi di bangku SMA. Masa masa SMA telah usai. Pengumuman hasil UN pun telah dikeluarkan. Dan hasilnya memuaskan. Saya lulus dengan peringkat V terbaik disekolah. Bagiku itu adalah prestasi yang membanggakan, begitupun dengan ketua orang tuaku. Selepas dari SMA, hampir semua teman kelasku mempersiapkan diri untuk mengikuti tes SBMPTN yang diadakan di seluruh PTN di Indonesia.

            Mengawali hari hari itu, selalu terkuak dibenakku cita cita yang sudah saya impikan sejak dulu. Mungkinkah saya juga bisa seperti mereka melanjutkan study di perguruan tinggi. Akan kah saya beranjak dari kampung halamanku. Menimbah ilmu demi menjadi seorang Professor, seperti yang saya cita citakan. Hari hari berlalu, dan saya masih terdiam dengan lamunan itu. Banyak hal yang menghantui pikiranku, pertanyaan pertanyaan silih berganti muncul yang bahkan aku tak tahu apa jawabannya saat itu. Dan suatu ketika saya melontarkan sebuah pertanyaan kepada orang tuaku. “Ma’, pak,, mau ka juga ke Makassar, mau ka mendaftar masuk kuliah, ada ji uangta bisa saya pake dulu ?. mendengar pertanyaan tersebut, beliau tidak langsung menjawab. Terlihat jelas di raut wajah mereka, memikirkan apa yang baru saja saya tanyakan. Tiba tiba, dengan nada pelah ayah ku menjawab. “Insya Allah nak, nanti saya usahakan pinjamkan ki uang. Mau sekali juga kita kasi sekolah ki nak, tapi kamu liat sendiri ji ini keadaannya bapak, apa apa serba kekurangan’.

            Sesak tiba tiba terasa didaku saat itu. Bukan karena kecewa dengan jawaban beliau, tidak lain karena mengingat selama ini beliau sudah berusaha bercucuran keringat mencari nafkah untuk menyekolahkanku dan adik adiku sampai selesai di bangku SMA. Saya takut beliau kecewa tak mampu memnuhi keinginan saya. Saya takut menambah beban fikiran mereka yang sudah penuh dengan berbagai macam persoalan kehidupan.
***
Dua pekan sebelum SBMPTN dilaksanakan, saya sudah berada di kota Makassar. Menanti pengumuman hasil seleksi PTN PMDK C atau lebih di kenal dengan program beasiswa BIDIKMISI, sekaligus mendaftarkan diri mengikuti tes SBMPTN. Beruntung ada keluarga yang bersedia menampung saya selama di Makassar. Saya pun segera mendaftarkan diri, dan Alhamdulillah hari itu juga kartu tes SBMPTN sudah ada di tangan saya. Beberapa hari yang tersisa saya gunakan untuk mereview kembali pelajaran saya semasa SMA. Saya sudah bertekad, jika saya tidak lulus seleksi Bidikmisi, saya harus lulus SBMPTN, agar bisa jadi seorang Mahasiswa.

Hari hariku pun terlewati di kota ini, sampai akhirnya tibalah hari yang menegangkan buat saya, pengumuman hasil seleksi Bidikmisi. Saya pun bersegera ke kantor BAAK UNM dengan berbagai macam perasaan saat itu. Setiba disana saya, saya pun mulai mecari, bertanya kepada beberapa orang. Dan akhirnya saya sampai pada sebuah tempat yang penuh kerumunan orang yang sebaya dengan saya. Saya mencoba menyelinapa mencari tahu, dan ternyata saya mendapatkan sebuah papan putih di penuhi dengan tempelan daftar nama nama ratusan orang bertuliskan “ Nama nama yang dinyatakan lulus seleksi PMDK A, B dan C”. Saya mengalihkan penglihatanku ke daftar nama nama yang lulus PMDK C. Mulai mencari dari daftar nama yang pertama dengan perasaan yang berdebar debar tak menentu.

“IDIL AKBAR”, tertulis jelas didepan mata saya. Rasa syukur yang luar biasa terucap didalam hati saya ketika itu. Haru bercampur bahagia, Tuhan telah menjawab doa doa saya selama ini. Doa doa orangtua saya yang tentu dengan harapan yang besar bisa melihat saya bersekolah di sebuah Universitas ternama di Makassar. Hari itu adalah hari penentu masa depan saya, hari yang amat bahagia, LULUS menjadi mahasiswa di jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam  Universitas Negeri Makassar (UNM). Segera kabar baik ini sampai ke telinga kedua orang tua saya, disambut rasa haru dan rasa syukur yang amat dalam. “Syukur Alhamdulillah nak, Tuhan memang selalu memberkahi orang orang yang butuh pertlongan-Nya”,kata kata yang terucap dari beliau ketika itu. Saya pun bergegas untuk mengikuti arahan selanjutnya. Memenuhi semua kelengkapan berkas yang dibutuhkan. Seleksi SBMPTN yang tadinya sudah saya persiapkan terabaikan.

****

Penyambutan Mahasiswa Baru di gedung Celebes Convention Center (CCC), adalah hari dimana saya resmi menjadi seorang mahasiswa UNM, dan langkah awal menuju kesuksesan saya. Hari hari sebagai mahasiswa terlewati begitu cepat, berkenalan dengan teman teman baru, ilmu pengetahuan yang baru dan berbagai macam hal baru. Dan berkat program beasiswa BIDIKMISI, saya bisa meginjakkan kaki di jurusan Fisika Universitas Negeri Makassar.

Tiga bulan berlalu, di akhir bulan December 2010, Bidikmisi mengadakan sebuah program pelatihan pembetukan karakter atau Character Building Training (CBT), yang betujuan membentuk dan membangun karakter mahasiswa agar dapat berkompetisi dalam bidang akademik maupun non akademik. Sungguh suatu kegiatan yang lur biasa, dimana di pandu oleh orang orang yang luar biasa. Dan lagi lagi ini berkat BIDIKMISI sehingga saya bisa berbagi ilmu dengan mereka. Berawal dari kegiatan tersebut, tekad untuk mencapai kesuksesan saya semakin besar. Saya memulai memperluas komunikasi, berteman dengan banyak orang yang luar biasa. Bergabung dalam sebuah paguyuban yang dinamakan Ikatan Keluarga Mahasiswa Bidikmisi (IKBIM) UNM, dan menjabat sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan.

Saat ini saya telah menghabiskan waktu selama hampir tujuh semester di Universitas tercinta ini, Universitas Negeri Makassar, berkat doa doa dan perjuangan orang tua dan keluarga saya, dan tentunya berkat program Beasiswa Bidikmisi. Saya tak mampu membayangkan apa jadinya saya jika saja tidak berada di tempat ini. Saya merasa impian saya sudah semakin dekat. Dan saya mensyukuri semua apa yang telah di berikan oleh-Nya. Sungguh suatu kebahagiaan yang teramat sangtat luar biasa. Dan sekali lagi semua karna BIDIKMISI saya bisa jadi seorang Mahasiswa. Terimakasih BIDIKMISI
*Oleh: Idil Akbar (Pendidikan Fisika'2010)
Share:

Minggu, 05 Januari 2014

Menemukan Secawan hujan di Sajak Bidik Misi


Beberapa rintik hujan merebah tepat di telapak musimnya
Rasa bahagia sekaligus haru sangat terasa saat tersiar kabar bahwa nama saya tercantum sebagai salah satu penerima beasiswa bidik misi. Sebelum mendapat informasi tersebut, saya dibanjiri kebekuan harapan untuk melanjutkan kuliah. Di lain sisi, orang tua dan kakak-kakak saya tetap optimis bahwa saya harus melangkah menapaki anak tangga pendidikan hingga sampai pada puncak impian. Kontradiksi sempat menyelimuti saya dan keluarga. Keraguan tak kalah hebatnya bergelayut di batin. Sepertinya resep putus asa sudah sangat membanjiri. Persoalan biaya menjadi penyebab utama saya bimbang.
Pasalnya, bapak saya hanya seorang pensiunan PNS dan ibu seorang ibu rumah tangga. Gaji PNS dan pensiunan PNS tentulah jauh berbeda. Pensiunan memiliki gaji rendah dibanding PNS. Golongan pangkat bapak saya juga tidak tinggi. Bapak tidak punya pekerjaan sampingan. Bapak saya harus menanggung hidup lima orang anak. Tetapi, bapak tetap optimis dengan harapannya yang ingin melihat anaknya memiliki pendidikan yang tinggi. Kata beliau “Keinginan itu nomor satu, uang masalah belakangan nanti bapak usahakan, pasti ada jalan, Tuhan itu Maha Penolong Nak. Yakinlah”. Dorongan seorang bapak kala itu menambah kebimbangan yang luar biasa pada diri saya. SMA saja saya jarang beli LKS dan buku, palingan mencatat buku milik teman. Begitupun uang semester yang sering tersendat pembayarannya. Sampai-sampai saya biasa dipanggil menghadap ke bendahara sekolah. SMA saja begini, bagaimana jika di bangku kuliah nanti. Harapan saya kala itu ibarat telur di ujung tanduk. Sementara teman-teman saya berbondong-bondong mendaftar di perguruan tinggi kesukaannya.

Namun, semangat saya tidak patah semua. Berdiam diri tanpa usaha adalah hal yang memalukan. Nah, saya mencoba mendaftar beasiswa program pemerintah dan swasta. Kebetulan nilai rapor sangatlah mendukung. Hanya itu jalan satu-satunya yang bisa saya lakukan dan berusaha untuk tidak mengecewakan bapak dan keluarga. Hampir setiap menit saya merenung. Dalam renungan: saya melihat diri ini mengenyam pendidikan tanpa biaya orang tua. Saya kemudian mencatat renungan itu, catatan-catatan adalah doa. Ia juga semacam harapan. Dan kelak bisa menjelma rintik hujan, yang membasahi jiwa-jiwa yang sabar.Singkat cerita, diantara beberapa teman yang mendaftar beasiswa bidik misi hanya empat orang dari sekolah saya yang lulus. Termasuk saya sendiri. Bidik misi hadir di waktu yang tepat. Ini merupakan rezeki. Tuhan Maha Penolong.

Rezeki itu serupa hujan. Kehadirannya tak dapat disangka, rintiknya membawa kesejukan. Beberapa rintik hujan merebah tepat di telapak musimnya. Bersyukurlah!

“Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”


Beberapa kekata lahir dari rahim hujan
 Angin malam serasa mengelus lembut alam renungan. Merenung lagi. Tetapi, bulan tidak di tempatnya malam ini. Mungkin, lagi-lagi ia menerangi angan-anganku yang masih dalam renungan terus menggeliat. Renungan kali ini bukan lagi soal keraguan pun kebimbangan. Ini soal kebutuhan. Menjalani perkuliahan menjadi euforia yang luar biasa, apalagi mendapat beasiswa.

Saya memiliki cita-cita untuk membeli sebuah laptop. Mengingat tugas dari dosen yang dominan mengharuskan menggunakan laptop. Uang dari beasiswa saya tabung, tidak mungkin saya mengharapkan uang dari orang tua. Bapak sudah cukup membiayai sekolah saya dari SD sampai SMA. Dan saya merasa itu sudah luar biasa. Setiap beasiswa cair saya tak lupa membeli buku walaupun hanya satu, buku adalah kebutuhan.Tetapi, akhir-akhir ini, ketika beasiswa cair, saya tidak sempat membeli buku. Sedikit boros memang. Saya tergoda untuk nonton film di bioskop dan jajan. Namanya juga manusia. Heheee. Namun, saya berjanji akan menyimpan uang untuk membeli buku.

Akhirnya, cita-cita saya untuk memiliki laptop terwujud walaupun agak lama. Dibutuhkan kesabaran dalam mengarungi arus kehidupan. Seperti mantra Ahmad Fuadi “Man shabara zhafira” Siapa yang bersabar akan beruntung.

 Fitrawan Umar dalam bukunya mengatakan “Konon, separuh hidup kita adalah menunggu”. Yah saya harus menunggu uang terkumpul untuk membeli sebuah laptop. Bukan laptop, lebih tepatnya notebook. Ukuran dan harganya lebih kecil/murah daripada laptop. Saya tidak repot lagi meminjam laptop teman dan tidak perlu lagi ke tempat rental untuk mengetik tugas kuliah.
Tidak hanya itu, saat pertama mendapat beasiswa, saya gunakan untuk mentraktir makan bapak, ibu, dan kakak-kakak. Walaupun itu selemah-lemahnya pemberian seorang anak kepada keluarganya.
Notebook, buku, dan mentraktir makan keluarga adalah berkat bidik misi: Beberapa kekata lahir dari rahim hujan.

“Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”


 *Oleh: Arini Suastika (Pend. Bahasa Indonesia'2010)

Share:

Jumat, 03 Januari 2014

Proses Pendaftaran BIDIKMISI 2014

Proses seleksi SNMPTN ini juga merupakan salah satu proses penseleksian dari program Kemdikbud yang berupa bantuan biaya pendidikan untuk mahasiswa berprestasi namun berasal dari keluarga tidak mampu bernama BIDIKMISI. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Djoko Santoso mengutarakan untuk tahun 2014 pemerintah telah menyiapkan sekitar 60.000 kuota peraih BIDIKMISI

Kegiatan Tanggal Pelaksanaan
Pengisian PDSS 6 Januari 2014 – 6 Maret 2014
Pendaftaran 17 Februari 2014 – 31 Maret 2014
Proses Seleksi 1 April 2014 – 26 Mei 2014
Pengumuman Kelulusan 27 Mei 2014
Pendaftaran ulang di masing-masing PTN 17 Juni 2014

INFO LENGKAP LIHAT http://www.dikti.go.id/?p=12601&lang=id
Share:

Tentang Kami

Wadah mahasiswa Bidikmisi UNM untuk saling berkreasin berinovasi dan tentunya menginspirasi.
Ayo kirimkan cerita inspiratif kalian sebagai mahasiswa Bidikmisi agar bisa menginspirasi banyak orang.

Kirimkan ke: ikbim.unm@gmail.com
ikbim.unm@gmail.com
.

Arsip

ADMIN

Website ini dikelola oleh Bidang 3 Hubungan Masyarakat IKBIM UNM Periode 2018-2019

Theme Support