Rabu, 01 Januari 2014

FROM ZERO TO HERO

            
FROM ZERO to HERO adalah sebuah untaian kata motivasi yang jujur aku genggam selama ini dalam perjalanan hidupku, aku tahu kalau sebagian orang juga menggenggam kalimat ini dalam hidupnya. Tapi perbedaannya mungkin terletak pada kata ZERO-nya. Zero yang ada dalam hidupku adalah ZERO dalam bidang ekonomi, sedangkan orang lain memiliki ZERO pada ‘skillnya’. Sebagai seorang yang terlahir dalam keluarga yang serba berkecukupan, aku harus mampu menggunakan potensiku yang lain untuk menunjang studiku selanjutnya. Bermula saat aku masih mengenyam pendidikan di bangku SMP, aku mulai menyadari bahwa ada pisau potensi yang bisa aku asah untuk aku gunakan untuk menikam segala ZEROku dalam bidang ekonomi yaitu kemampuanku untuk melakukan lebih dari teman-temanku saat itu diantaranya, aku sudah mampu  mengolah kata dalam bahasa inggris. Saat itu aku sudah menguasai empat tensis dasar yang sangat mendasar untuk memahami suatu kalimat ataupun membuat kalimat. Saat duduk di kelas VII, aku sudah mampu membuat karangan yang fiksi yang pada kala itu menjadi tugas akhir semesterku, pada tulisan pertamaku itu, aku mengambil judul ‘la bembe-bembe’, sebuah mitos yang dipercayai oleh masyarakat di sekitar tempat tinggalku.

            Saat pengumpulan tugas, oleh guruku aku disuruh untuk membacakan cerita itu, dan aku masih mengingat pujian indah yang terucap dari mulut guruku itu “excellent, I hope you will be English teacher later to exchange me”. Bagaikan terbang ke langit ketujuh perasaanku saat itu, saat itu aku mendapatkan tepuk tangan yang paling meriah. Setelahnya itu aku diundang langsung oleh guruku untuk mengikuti bimbel gratis setiap sorenya setelah sekolah di sekolahku. Step by step aku lalui dan hasilnya pun memuaskan, aku sudah melampaui kempuan teman sebayaku. Pengetahuanku tak hanya aku fokuskan pada mata pelajaran bahasa inggris saja, tapi dengan pelajaran lainnya dan hasilnya aku dapat mempertahankan juara umum ke tiga di sekolahku dan peringkat ke-2 dalam kelasku. Namun tak bisa ku pungkiri bahwa untuk menunjang penampilanku aku juga butuh suntikan PD kemudian aku bergabung  dalam organisasi pramuka dan OSIS. Walaupun itu aku hanya menjadi anggota yang belum mempunyai pengaruh besar dalam organisasi, but whatever-lah yang penting aku sudah dapat melawan rasa takutku untuk berhadapan dengan orang banyak. Dan itu berlanjut sampai aku menginjakkan kaki di sekolah SMAN 1 Sinjai Tengah.

            Bercerita masa SMA ku, aku menganggap tahap ini sebagai awal yang sesungguhnya dalam perjuanganku mendapatkan pengakuan dari orang bahwa anak yang ZERO dalam bidang ekonomi mampu menjadi HERO. Aku masih ingat saat proses orientasi siswa baru di sekolahku. Aku melihat kakak kelas yang menjadi panitia MOS yang sudah mampu menjalankan tugasnya dengan baik yaitu dengan memberikan kami pengarahan. Kala itu, aku berkata dalam hatiku “ ini cuman masalah kalian lebih dulu merasakan asinnya garam di dunia ini, tahun depan aku akan berdiri dan berada dalam posisi yang sama dengan kalian”. Tahun pertamaku disekolah ini sangatlah berat, aku harus berjuang keras untuk menyingkirkan sainganku satu persatu. Belajar dengan giat dan tak memikirkan yang lainnya. Namun terkecuali untuk organisasi, aku sudah jatuh cinta dengannya, kebetulan saat itu aku mendapat perhatian lebih dari guru yang kebetulan juga menjadi Wakasek bidang Kesiswaan.

            Diluar dugaanku, aku langsung ditunjuk untuk mengkoordinir teman-teman ku yang ingin mendaftar sebagai pengurus OSIS. “Amazing” hanya itu yang bisa aku teriakkan dari dalam hatiku, ini adalah awal yang baik menurutku karena jarang sekali seorang siswa baru mendapat kesempatan untuk melakukan itu semua. Setelah itu aku terpilih sebagai sekretaris pada devisi pengembangan potensi siswa. Aku adalah siswa baru yang berhasil menduduki jabatan tersebut. Tak hanya OSIS aku juga bergabung dalam organisasi ekstra yaitu Pramuka. Petualanganku dalam menjelajahi rimba organisasi tidak sampai di situ, aku lalu mendaftarkan diri pada organisasi SAKA BHAYANGKARA ranting Sinjai Tengah. Kalian jangn berfikir bahwa petualanganku in tak mendapat onak duri, pernah suatu hari seorang temanku berkata padaku “nggak usahlah masuk organisasi, organisasi itu akan merusak nilai mu nantinya”, perkataan itu hampir saja membuatku ciut nyali, di tambah lagi kedua orang tuaku juga tak mendukung langkah ku dalam berorganisasi. Tapi aku mencoba meyakinkan mereka semua bahwa nilaiku takkan terganggu dengan organisasi dan aku mampu memberikan lebih kepada orang tuaku nantinya melalui organisasi ini. Benar saja aku tak terganggu dengan organisasi ku, malah itu membantuku untuk lebih dekat dengan guru-guru, aku menduduki juara umum di semua kelas di kelas X.

            Tahun ke-2 ku di bangku SMA, aku anggap sebagai tahap pembuktianku dari ZERO to HERO. Aku bertekad untuk menjadi wanita ke-3 yang memegang kendali di OSIS. Langkah ku aku mulai dengan mendaftarkan diri pada panitia lalu melakukan pendekatan dengan adik dan kakak kelasku pada saat itu, sebenarnya aku hampir berhasil memenangkan pemilihan itu namun karena adanya Black campaign yang dilakukan oleh lawanku saat itu, akupun gagal. Namun aku tak berkecil hati dan selalu berharap menjadi yang terbaik walaupun tak di OSIS karena aku yakin bahwa akan ada pelangi indah yang muncul setelah adanya badai. Saat itu aku hanya menduduki Sekretaris umum OSIS tapi boleh dikatakan jika akulah yang memegang kendali utama OSIS pada saat itu karena adanya lempar tanggungjawab yang dilakukan oleh ketua OSIS ku saat itu. Tapi itu semua aku jadikan anugrah karena dari situ aku belajar mengarahkan teman-temanku dan berusaha menjadi leader yang baik buat mereka.

            Berkat kerja keras ku dalam meleader teman-teman di OSIS, aku mampu mewujudkan tekadku saat aku masih mengikuti MOS, aku di tunjuk menjadi ketua panitia MOS pada saat itu, disini aku menunjukkan segala kemampuanku dan itu tidaklah sia-sia, aku masih ingat kalimat yang terucap dari mulut Wakasek Kesiswaan “saya sangat berterima kasih kepada semua panitia yang telah bekerja keras dalam kegiatan MOS ini, saya sangat puas dengan kerja kalian”. Tak hanya menjadi ketua panitia dalam MOS, aku juga terpilih menjadi ketua panitia dalam pelaksanaan PORSENI. Akhir semester empat, sekolahku mendapat undangan untuk mengikuti lomba KREASI SENI PUTIH ABU-ABU yang dilaksanakan di Kabupaten. Tak salah lagi, akulah yang ditunjuk untuk membentuk team work untuk setiap lomba. Berkat kerja keras selama kurang lebih satu bulan untuk mempersiapkan semuanya dan optimisme untuk menang, sekolahku menjadi yang terbaik dan berhak memboyong piala bergilir ke sekolahku tercinta. Kami telah mengalahkan 11 sekolah SMA/MA sederajat, aku sangat bangga saat penyerahan piala bergilir tersebut, semua mata tertuju padaku yang kala itu memegang piala tersebut, riuh gemuruh tepuk tangan yang aku dengarkan saat itu membawaku serasa berada dalam alam mimpi.
            Tahun ketigaku di SMAN 1 Sinjai Tengah adalah saat yang paling berat buatku. Aku diperhadapkan oleh kenyataan yang tak bisa aku terima. Perlahan aku mulai menarik diri dari kehidupan organisasiku. Aku sadar bahwa sebentar lagi aku akan mengadapi UN jadi terpaksa aku harus memfokuskan pikiranku untuk UN. Sedih rasanya, namun apa boleh buat itu adalah pilihan mutlak yang harus aku pilih. Namun, masalah lain muncul, saat seorang guruku bertanya “kamu mw lanjut dimana?”, saat itu aku hanya menjawab “liat nanti saja pak”. Aku tahu kalau guruku saat itu mengerti dengan jawabanku yang mengandung arti lain. Aku memang tidak terlalu mempublikasikan dimana aku akan lanjut kuliah, karena masalah ZERO ku tak bisa aku pungkiri. Beasiswa yang aku dapatkan selama ini tidak cukup untuk biaya kuliahku selama 4 tahun. Rasanya aku ingin lari dari kenyataan hidup yang aku alami saat itu. Tapi aku tetap optimis kalau suatu saat nanti akan ada pertolongan dari ALLAH untukku. Dan itu aku imani.

            Pada saat upacara bendera di sekolahku, wakil kepala sekolahku sempat menyinggung masalah Beasiswa BIDIK MISI, saat itu aku merasakan ada harapan baru yang muncul dari dalam hatiku. Sebenarnya aku sudah mengetahui lebih awal tentang BIDIK MISI. Aku mendapatkannya dari internet, sebagai anak dari keluarga yang kurang mampu yang ingin lanjut studi, mencari informasi tentang beasiswa adalah jalan satu-satunya, di tambah lagi salah seorang kerabatku adalah penerima beasiswa bidik misi juga. Jadi, aku menggali banyak informasi dari mereka. Namun,keberuntungan kembali mengampiriku tanpa aku minta guru yang yang menangani masalah beasiswa BIDIKMISI mendaftarkan aku sebagai calon penerima beasiswa tersebut. Mungkin  itu dikarenakan karena hasil akumulasi nilai dari kelas X sampai kelas XII nilaikulah yang menduduki peringkat teratas.

            Oleh guruku, aku di perintahkan untuk melengkapi berkas sebagai calon penerima beasiswa BIDIKMISI. Tak sampai seminggu, aku sudah merampungkan semua berkasku. Pendaftaran calon penerima BIDIKMISI berbarengan dengan pendaftaran SNMPTN. Aku memilih dua Universitas ternama di Sulawesi Selatan yaitu UNHAS dan UNM. Sebagai univeritas pencetak guru terbaik di Sulawesi selatan, pilihanku aku jatuhkan pada Pendidikan Bahasa Inggris dan Manajemen untuk pilihan kampus pertamaku yaitu Universitas Negeri Makassar. Jurusan kehutanan dan kedokteran aku pilih pada pilihan kampus keduaku yaitu Universitas Negeri Hasanudin. Namun aku tak mengandalkan cuma satu jalur saja, aku lalu mendaftarkan diri pada jalur SPMB-PTAIN, aku mendaftar pada kampus UIN Alauddin Makassar, dengan pilihan jurusan Ilmu Hukum dan jurnalistik. Setelah proses pendaftaran itu, aku hanya berserah diri kepada Allah swt. Tapi aku optimis akan lulus pada jalur ini pada pilihan pertamaku di Universitas Negeri Makassar dengan jurusan pendidikan bahasa inggris. Entah apa yang membuat aku merasakan hal seperti itu, namun itulah kenyataannya.

            Selama kurang lebih empat bulan aku pusatkan fikiranku untuk belajar, dan akhirnya lembaran soal UN yang penuh kontroversi mulai dari jumlah paket yang diterapkannya sampai lembaran jawaban yang sobek. Namun itu tak menipiskan semangatku untuk mengerjakan soal yang menjadi penentu kelulusanku. Selama empat hari bertarung melawan tingkat kesusahan masing-masing soal, akhirnya UN pun selesai. Antara lega dan was-was aku menunggu pengumuman. Ada dua pengumuman yang sangat aku tunggu-tunggu, pertama pengumuman hasil SNMPTN dan pengumuman hasil ujian nasional. Pengumuman SNMPTN lebih dahulu dari pengumuman hasil ujian nasional. Kala itu, sekitar pukul 17.00 wita, tak sengaja aku membuka akun facebook ku. Sontak aku sangat kaget melihat postingan beberapa temanku yang menyatakan bahwa mereka lulus jalur SNMPTN. Aku pun langsung menanyakan bagaimana cara melihat hasil pengumuman SNMPTN, namun salah seorang temanku menawarkan bantuan untuk mengetahui apakah aku lulus atau tidak. Dia meminta nomor pendaftaranku dan tanggal lahirku. Beberapa menit kemudian sebuah postingan yang dikirimkan di timeline akun facebook ku yang menyatakan aku lulus pada jurusan pendidikan bahasa inggris Universitas Negari Makassar. tanpa kusadari aku berteriak dan langsung menuju pada sesosok malaikat yang terlihat yaitu ibuku terkasih. Aku ingin dia menjadi orang yang pertama meendengar kabar gembira ini. Tanpa dia aku takkan ada di dunia ini. aku masih ingat ucapan ibuku saat itu “itu rejeki mu nak, maka gunakanlah sebaik-baiknya. Emma’ percaya kalo kamu bias mendapatkan itu. Ingat ini bukan lah akhir dari pencapaianmu, tapi ini adalah permulaan yang sesungguhnya. Emma’ bangga pada mu nak”. Aku terharu mendengar ucapan ibuku.

            Keesokan harinya, aku melangkahkan kaki mungilku ke sekolahku yang telah memberiku kesempatan untuk menimba ilmu. Sesampainya aku disana, beberapa pasang mata memandangiku disertai dengan uluran jabat tangan tanda ucapan selamat kepadaku yang telah lolos pada jalur SNMPTN. Sebuah lengkungan manis yang ku gambarkan pada bibirku sebagai balasan kepada mereka yang telah memberiku ucapan. Aku langsung menuju pada sesosok guru yang sangat berarti dalam hidupku, dialah Wakasek bidang kesiswaanku. Antara gemes atau bangga, dia memegang kepalaku dan mengguncang-guncangkannya dan berkata “selamat nah, saya bangga padamu”. Beberapa guru yang kutemui juga memberikan ucapan kepadaku. Namun, timbul kekhawatiran dalam pikiranku, akan kah kebahagianku saat ini juga akan ku rasakan saat pengumuman hasil UN nanti?. Kekhawatiranku makin menjadi-jadi saat isu-isu mulai bertebaran menghamburkan kegelisahan diantara aku dan teman-temanku. Tapi aku tak menampakkan sikap pesimisku dihadapan teman-temanku, malah aku berusaha meyakinkan mereka bahwa kami akan lulus semua.

            Sekitar dua minggu lebih aku mendapatkan kabar gembira lagi, aku juga lulus di UIN alauddin Makassar dengan jurusan jurnalistik. Tak hentinya aku mengucapkan syukur pada Allah swt. Yang telah memberiku nikmat yang sangat besar. Tapi aku kembali dihadapkan pada pilihan antara menjadi guru ataukah menjadi seorang jurnalis. Atas pertimbangan yang matang dan dukungan dari kedua orangtuaku, aku memutuskan untuk memilih menjadi guru karena di daerahku masih sedikit peluang untuk kehidupan seorang jurnalis nantinya. Setelah itu, hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang juga, hari pengumuman hasil ujian nasional. Detakan jantungku kala itu tak menentu, penyakit mules dan pening pun menghampiriku. Tapi tak lama kemudian aku mendapatkan kepastian bahwa aku lulus ujian Nasoional. Namun, empat orang temanku tak seberuntung diriku, mereka dinyatakan tidak lulus. Sedih campur senang perasaanku saat itu. Teriakan kegembiraan serta coret-coret seragam mewarnai hari itu. Namu, aku tak ikut-ikutan coret-coret seragam, aku menyadari bahwa masih ada orang yang lebih membutuhkan seragamku saat ini, yaitu adikku yang kala itu juga sudah duduk di bangku SMA.
           
Dengan diantar oleh tante tersayangku, aku melangkahkan kaki menuju Makassar untuk melakukan pendaftaran ulang. Jujur ini adalah kali pertama aku menginjak gedung Auditorium Amanagappa UNM. Di sana ada ribuan orang yang sedang berbaris menunggu giliran untuk melakukan pendaftaran ulang. Pengap yang kurasakan saat itu namun, aku tetap berusaha bertahan, dan akhirnya tibalah giliranku. Dengan dihadapkan oleh seorang wanita yang merupakan panitian PMB, aku langsung mengecek namaku, aku mengecek pada lembaran belakang dan tiba-tiba aku tersontak kaget karena tak ku jumpai sebuah nama ‘S*K*AW**I LESTARI” di sana. Jangan-jangan aku tidak lulus, namun aku berusa mencari nama itu, dan akhirnya nama itu berada pada urutan ke-3 pada halam paling depan. Then, oleh wanita itu, aku di beri sebuah map kuning yang merupakan map khusus untuk Mahasiswa BIDIKMISI. Di dalamnya terdapat lembaran kertas yang terdiri dari surat pernyataan, data diri dan surat keterangan dokter yang nantinya akan di isi oleh mahasiswa yang bersangkutan.

            Keesokan harinya aku melangkahkan kaki ku menuju area Pasca Sarjana UNM untuk mengikuti tes Kesehatan. Namun, kekecewaan sempat aku rasakan pada saat itu karena pemeriksaan kesehatan tak sesuai dengna apa yang ku bayangkan. Tim dokter yang di beri wewenang tak sebanding dengan jumlah Mahasiswa Baru sehingga antrian panjang pun mewarnai kegiatan pada hari ini. Ditambah lagi, banyaknya mahasiswa baru yang tak sabaran kala itu membuat kegaduhan dalam ruangan tersebut. Untunglah keberuntungan berpihak kepadaku saat itu, aku adalah orang terakhir yang dipanggil sebelum waktu istirahat. Aku sangat bersyukur karena aku tak perlu lagi menunggu sampai jam 13.00 wita. Namun, yang namanya manusia tak selamanya keberuntungan selalu berpihak kepadanya, setelah keluar dari ruangan segerombolan senior-senior yang tak jelas bentuk dan rupanya menghampiriku dan bisa di tebak aku menjadi korban kejahilan senior yang tak jelas bentuknya itu. Ingin rasanya ku tonjok muka mereka satu-satu namun,apalah dayaku, aku masih Mahasiswa baru yang baru mengenal dunia kampus. Aku belum cukup punya keberanian untuk melakukan hal itu. Tapi it’s okay for me, ini adalah hal lumrah. Kan ku jadikan in sebagai unforgettable event in my life.

            Jadwal selanjutnya adalah tes wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2013. Jantungku berdetak tak menentu saat ku pandangi gedung Rektorat yang menjadi tempat tes wawancara untuk peserta BIDIK MISI. Berkas yang diminta pun telah kusiapkan, mentalku juga telah aku latih untuk tidak grogi saat pertanyaan-pertanyaan menyerangku, fisikku pun telah kupersiapkan dari tadi pagi. Ingin rasanya ku percepat waktu agar semuanya berakhir, namun apa daya, aku harus mengantri untuk mendapatkan giliran untuk diwawancarai. Tiba saatnya giliranku, aku dihadapkan oleh sebuah kenyataan bahwa surat SKTM ku tak berada dalam tasku. Untunglah selembar kertas yang telah ku copi dari akun BIDIK MISI ku yang menyelamatkanku. Setelah pemeriksaan berkas, aku dipersilahkan menuju seorang lelaki paruh baya yang menurutku mempunyai charisma yang luar biasa, matanya memancarkan keteduhan saat memandangnya, orangnya juga kelihatan tidak sangar bahkan sangat ramah. Aku lupa siapa namanya karena memang dia tidak memperkenalkan namanya. Setelah dia melemparkan pertanyaan mengenai identitasku, timbul kejengkelan dari dalam hatiku, tanpa alas an yang jelas, dia pun beranjak dari kursinya, meninggalkanku lalu menyapa temannya yang duduk di pojok ruangan. Aku tak tau harus berbuat apa, aku hanya duduk dengan senyum sinis, aku hanya menunggu dia sampai dia kembali ke kursinya. Ku lihat temanku sudah selesai diwawancara. Selang 10 menit, dia pun kembali dengan senyuman tak berdosanya. Setelah itu, dia berkata “tes wawancaranya sudah selesai”, “kenapa nggak dari tadi kek bilangnya kalo sudah selesai”gerutuku dalam hati. Jadwal hari itu telah selesai.

            Keesokan harinya, telah ku isi ulang semangatku sampai full. Karena hari itu adalah hari pengumpulan berkas yang menandai akhir dari rentetan proses panjang ini. Harapan untuk pulang ke Sinjai telah aku bayangkan pada pagi harinya. Bayangan akan sosok adek kecilku yang sedang menguap dan tidur di pangkuanku sudah aku bayangkan bersamaan dengan derap langkahku ke menara Phinisi. Namun, itu semua langsung buyar setelah aku melihat sebuah kertas ukuran 15x9 cm tertempel pada pintu masuk ke lantai dua menara phinisi yang memberitahukan bahwa jadwal pengumpulan berkas di undur sampai waktu yang tidak di tentukan dan di harapkan untuk melihat pengumuman di Web www.unm.ac.id. Betapa geramnya perasaanku saat itu, ingin rasanya aku pecahkan kaca itu. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk menunggu sampai lima hari kedepannya. Namun, belum ada kejelasan dari pihak panitia PMB.
            Tapi aku tak menyesali perjuanganku kala itu karena sekarang aku sudah duduk manis dari Senin sampai Jumat di gedung DH jurusan Bahasa Inggris, fakultas Bahasa Dan Sastra. Awal aku di bahasa inggris sangatlah berat aku harus menyesuaikan dengan teman-temanku yang lain. Home sick selalu menghampiriku setiap harinya, namun aku telah bertekad bahwa takkan kubiarkan ini semua mengalahkan ambisi ku untuk menjadiseorang HERO’bahasa inggris’. Untunglah aku dapat terhibur oleh kegiatan BIDIKMISI yaitu kegiatan SSDT (Soft Skills Development Training), acara ini dilaksanakan dalam empat gelombang. Kebetulan aku mengikuti acara ini pada gelombang ke-4, aku berfikir bahwa gelombang keempat akan lebih seru karena itu adalah gelombang terakhir dari rangkaian acara ini.
           
Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari yaitu  Sabtu dan Ahad. SSDT gelombang keempat bertempat di gedung Rektorat lantai tiga. Kebetulan saat itu, hujan turun sangatlah derasnya, tapi itu tak menghalangi semangatku untuk mengikuti kegiatan tersebut, ntah apa yang membuat aku sesemangat itu pada pagi harinya. Pukul 8.00, kami dikumpulkan untuk mendengarkan arahan selanjutnya, kala itu aku memilih untuk duduk pada bangku terdepan, aku berfikir bahwa saat pemberian materi sebentar aku akan lebih muda memahaminya dan disamping itu pula kursi yang berada pada deretan terdepan adalah kursi yang aku rasa sangatlah empuk untuk diduduki untuk beberapa jam kedepannya. Suara nyaring penuh kharisma menyapa aku dan teman-teman pagi yang berselimutkan awan mendung, salam semangat dan ucapan selamat datang dia sampaikan dia adalah facilitator yang pertama aku kenal, anak muda dengan sejuta kharisma, dia adalah kak (prof) *UD*, jujur aku sangat kagum dengan dia namun itu hanya sebatas kagum antara senior dan yunior di BIDIKMISI. Oleh dia, kami di arahkan untuk mengisi daftar hadir dan mengambil cemilan serta alat tulis yang telah di siapkan oleh panitia.

Jujur kesan pertama yang aku dapatkan pada kegiatan ini adalah fasilitator yang memandu acara ini sangatlah menyenangkan, ramah, dan tentunya mereka terlihat berkharisma. Timbul keinginan yang kuat dari dalam diriku untuk menjadi seperti mereka. Ada kak Alif yang mempunyai retorika yang sangat luar biasa bagusnya, kak Yudi yang murah senyum serta prestasinya yang sangat membanggakan, ada kak Roy yang ramahnya minta ampun, serta tak lupa ada kak Idil Akbar yang menyenangkan dan penuh kharisma tersendiri menurutku. Lewat pukul 8.30 WITA kegiatan in dibuka dengan pemberian materi dari kak Hilman seorang sarjana muda Psikolog yang membuat mata semua teman-temanku saat itu terpana. Dan acara pada hari itu ditutup oleh pemberian materi dari dari Prof. Jufri seorang laki-laki yang mungkin didambakan oleh seluruh wanita yang terlahir normal ke dunia ini. Tak kuperdulikan capek yang kurasakan pada hari itu gara-gara duduk seharian full. Selingan musik ceria dari Katty perry serta yel-yel penuh semangat yang mungkin membuat rasa capek itu tak terasa.

Acara SSDT ini telah membawa pengaruh yang sangat besar dalam perjalan hidupku. Terlebih saat hari kedua kegiatan ini, oleh trainer kami dibagikan sebuah kertas yang olehnya disebut sebagai peta hidup. Kami disuruh untuk menuliskan target yang akan dicapai setiap tahunnya mulai saat kami mengikuti SSDT sampai aku berumur tujuh puluh tahun. Suatu kegiatan yang tak pernah aku lakukan sebelumnya, namun aku pikir ini adalah kegiatan yang menyenangkan dan akan berbuah manis nantinya. Aku menuliskan planning terbesarku pada setiap kolom yang telah disediakan. Lulus tepat waktu dengan IPK 4,00 adalah salah satu impian terbesar dalam hidupku. Pada akhir acara Prof.Jufri memberikan kami sebuah suggesti yang tadinya aku merasa terbebani dengan kehidupan dunia kampusku hilang dan berubah menjadi semangat yang tak terkira. Kegiatan SSDT pada hari itu ditutup dengan meriah dengan bekal sebuah resolusi diri selama satu bulan kedepannya yang di tanda tangani oleh setiap peserta serta ditanda tangani oleh saksi-saksi yang dianggap penting bagi peserta.

Kegiatan SSDT ini menyisahkan cerita manis tersendiri bagi para peserta terkhusus untuk aku. Kegiatan SSDT memang telah berakhir namun hasil SSDT akan selau menemani derap langkahku untuk selama-lamanya. Hari-hariku sudah menunjukkan perkembangan yang positif, yang sebelumnya aku agak sedikit minder ketika berada dalam kelas berubah menjadi sosok yang percaya diri. Telah ku tuliskan planningku setiap harinya dalam buku impianku yang tak seorang pun kuperbolehkan melihat itu. Aku mulai belajar untuk konsisten dalam memenej waktuku, memenej keuanganku dan aku belajar untuk lebih bisa menyeimbangkan kehdupan duniaku dan kehidupan akhiratku.

Aku sangat berharap, jika suatu saat nanti aku akan seperti bahkan melebihi fasilitator-fasilitator yang telah memandu aku dan teman-teman BIDIKMISI lainnya. Aku memang ditakdirkan untuk terlahir dari keluarga yang kurang mampu namun takdir itu haruslah aku lawan dan  menjadikannya cambuk untuk meraih prestasi.aku hanya ingin berucap melalui tulisanku ini, bahwa Bermimpilah selama mimpi itu masih gratis, but if you want to make your dream come true, the first thing you have to do is wake up. Dan aku percaya bahwa orang yang gagal bukanlah orang yang tak melakukan apa-apa namun orang yang gagal adalah orang yang berhenti ketika mimpinya hampir terkabul. Orang yang kuat bukanlah dikatakan kuat ketika dia tak pernah jatuh, namun orang yang kuat adalah orang yang tatkala pernah jatuh senantiasa dapat berdiri kembali dan menjadikan Allah swt., sebagai tempat untuk bersandar dan memohon pertolongan.(SL*BM)
      

*Karya: Sukmawati Lestari ( Pend. Bahasa Inggris 2013)
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Navigation Menu

About me

Kirimkan cerita inspiratif kalian sebagai mahasiswa Bidikmisi agar bisa menginspirasi banyak orang.

Kirimkan ke: ikbim.unm@gmail.com
ikbim.unm@gmail.com
.

Search

ADMIN

Website ini dikelola oleh Bidang 3 Media dan Komunikasi IKBIM UNM

1. Muhammmad Akhsan Alimuddin
2. A. Irvan Pradana
3. Nurhidayah
4. Vivi Suyanti
4. Nining Rahmiati
4. Muh. Irwan
4. Lindasari

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support