Jumat, 31 Januari 2014

Goresan Abadi Dalam Rajutan Mimpi Bersama Bidik Misi

“sebuah lukisan pena abadi dalam untaian kata untuk persembahan terima kasihku pada Bidik Misi yang telah memberi seberkas cahaya terang pada gelapnya lorong hidup yang kuarungi, sehingga aku dapat berjalan dalam kegelapan itu menuju mimpi yang kurajut dalam bingkai kesederhanaan”

Sepenggal cerita terbesit dalam memori ketika rasa itu hadir dalam koridor hati dan jiwa yang hampa.Sembilan belas tahun silam adalah waktu yang cukup lama kuarungi dengan beragam cerita yang silih berganti hadir memberi warna bagi hidupku.Mungkin terlalu lebay (kata anak muda zaman sekarang) jika menggunakan kata-kata seperti itu, namun aku tidak bisa mengubahnya menjadi bahasa formal yang tidak mengandung unsur ke-lebay-an. aku punya segudang cerita hidup yang terkadang menyisahkan sedikit bekas luka namun bermakna.Cerita itu lahir dari untaian langkah kehidupan yang meninggalkan jejak layaknya bekas pijakan sepasang kaki ketika melangkah dalam tanah berlumpur.Setiap pijakan itu meninggalkan tanda yang mungkin punya makna tersendiri. Seperti itulah hidup yang kita lalui ketika berjalan dari satu masa ke masa yang lain, makaakan lahir cerita baru tentang apa yang baru saja kita alami.

Sepanjang perjalanan itu akan banyak cerita yang terpatri, entah cerita tentang suramnya kehidupan, tentang derita yang tak kunjung lenyap dari ingatan, tentang kisah hidup dalam dinamikakesederhanaan, cerita masa kecil yang tak ada habisnya, atau mungkin juga tentang perjalanan panjang seorang pemimpi dalam mewujudkan mimpinya. Pemimpi yang berkelana ke bumi pertiwi yang tak pernah dikunjungi sebelumnya.Hanya berbekal sepasang tongkat kesederhanaan dan sebongkah pikiran beralaskan tekad yang kuat, pemimpi itu pamit dan berangkat menyusuri setiap lembah kehidupan dan memecahkan teka-teki kehidupan yang dihadapi.Bukan hanya itu, cerita tentang raut wajah senyum yang terpancar sebagai efek dari roman bahagian pun kadang pula menjadi pemandangan tersendiri yang kita lalui dalam perjalanan hidup kita.Entah bahagia karena apa, itu tergantung dari pribadi masing-masing bagaimana mempersepsikan bahagia itu seperti apa dan bahagia itu kapan, “bahagia itu sederhana karena pada dasarnya yang menciptakan kebahagiaan itu adalah kita sendiri”.

Sebelum jauh bercerita, aku akan memperkenalkan diriku pada kalian yang sempat memalingkan wajah menyimak untaian kata yang tergores dalam lembaran putih ini, nama lengkapku Jamaluddin Gesrianto A., orang-orang biasa menyapaku dengan panggilan Jamal. Aku lahir Sembilan belas tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 15 Juni 1994 di sebuah perkampungan kecil di pelosok desa yang penuh dengan kerikil tajam, dikelilingi gunung dan lembah berbalut awan putih tebal seperti salju di kutub utara. Desa Gandangbatu namanya, sebuah desa yang ada di pegunungan Tana Toraja yang sekarang telah diresmikan  menjadi sebuah kecamatan. Tepat berada di ujung selatan Kabupaten Tana Toraja dan berbatasan dengan kabupaten Enrekang.Aku lahir dari sebuah keluarga kecil dan sederhana, ya, aku dilahirkan dalam kesederhanaan dan juga dibesarkan dalam keserderhanaan, namun dari kesederhanaan itu aku belajar untuk hidup.Aku adalah anak seorang petani dari dusun Sangrandanan, ayah dan ibuku bekerja sebagai seorang petaniyang dalam kesehariannya mereka menghabiskan waktunya bergumul dengan kebun dan sawah, namun aku bangga memiliki mereka.Mereka adalah orang-orang hebat yang kumiliki, mereka adalah pahlawan hidupku yang telah menghabiskan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk memberi sesuap kebahagiaan pada kami anak-anaknya.Hobbiku adalah bermimpi dan berpetualang dengan alam bebas, namun pemimpi yang tidak hanya sekedar bermimpi tetapi menjadikan mimpinya sebagai motivator untuk meraih kesuksesan.

Aku menghabiskan masa kecilku bercengkrama dengan alam bebas dalam suasana layaknya anak kampung dan mulai menginjakkan kaki di dunia pendidikan pada tahun 2001 di SDN 142 INP.Gandangbatu dan tamat tahun 2006. Setelah tamat jenjang sekolah dasar, aku melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama di SMP Kr. Gandangbatu tahun 2006 dan tamat tahun 2009. Kemudian aku meninggalkan kampung halamanku untuk mengejar mimpi-mimpiku. Aku melanjutkan sekolahku di salah satu sekolah unggulan sekaligus favorit di kota Makale tepatnya di SMA N 3 Makale. Selama tiga tahun aku menghabiskan waktuku untuk membedah setiap ilmu pengetahuan yang kudapatkan sebagai ukiran abadi dalam merangkai masa depan. Dan alhamdulillah pada tahun 2012, aku menyelesaikan studiku di bangku sekolah.

Beragam peristiwa yang mungkin hadir ketika masa lalu hanya sebatas kenangan dan kemudian menghadirkan sebuah ilustrasi masa depan yang akan menjadi nyata. Ada sebuah kisah yang telah mengambil sebuah tempat abadi dalam memori jiwaku.Kisah yang mungkin juga adalah sebuah kenangan abadi yang sempat tergores ketika aku masih duduk di bangku sekolah dengan seragam putih abu-abu. Saat ini, sebagian hidupku yang tidak lain adalah masa depanku dan juga mimpi-mimpiku telah kugantungkan pada kisah itu. Aku berharap cahaya terangnya tetap ada untuk menyinari lorong gelapku agar aku bisa berjalan dalam kegelapan itu untuk menemukan mimpiku. Dia adalah BIDIK MISI. Ketika mendengar kata itu, pikiranku kembali ke masa satu tahun yang lalu, dimana pertama kali aku mengenalnya.saat itu aku masih duduk di bangku sekolah tepatnya di kelas dua belas.

Seorang guru matematikaku saat itu menyampaikan sebuah pengumuman tentang nama-nama yang direkomendasikan oleh sekolah untuk mengikuti penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi melalui jalur undangan.Diantara deretan nama yang di sebut, salah satu nama yang disebut adalah namaku, seharusnya aku bahagia karena bisa terpilih dari sekian banyak nama yang ada namun kenyataannya tidak demikian. Aku malah berbalik memandang teman-temanku yang mulai memperlihatkan muka kecewanya karena namanya tidak disebut dalam pengumuman itu.Aku berpikir bahwa aku telah menghalangi mereka untuk kuliah, seandainya tidak ada namaku di pengumuman itu, mereka masih punya satu kesempatan untuk terpilih juga karena meskipun nantinya aku lulus di perguruan tinggi, aku tetap tidak bisa kuliah.Memang selama sekolah, aku tak pernah membayangkan aku bisa menginjakkan kakiku di perguruan tinggi.

Aku tidak berpikir untuk kuliah bukan karena tidak mau, tetapi lebih karena aku mengerti tentang kondisi ekonomi keluargaku. Aku kasihan melihat perjuangan ayah dan ibuku yang susah payah menyekolahkan aku sampai SMA. Menurutku, sekolah sampai SMA sudah cukup untukku.Aku tak mau lagi membebani kedua orang tuaku. Aku tahu bagaimana perasaan mereka ketika tiba waktunya dulu aku akan membayar uang sekolah. Terpancar jelas di raut muka mereka beban yang sangat berat meskipun mereka tetap tersenyum, namun aku mengerti bagaimana derita yang mereka pendam di balik senyumnya itu.Mereka sering mengatakan aku baik-baik saja ketika aku bertanya tentang keadaannya, namun aku tahu mereka pasti menyembunyikan sesuatu rasa sedihnya. Saat laparpun demikian, mereka akan kenyang ketika melihat kita makan meskipun perutnya kelaparan. Semua orang tua mungkin memang demikian, itulah alasan mengapa aku menyebut kedua orang tuaku sebagai pahlawan hidupku.Mereka telah melahirkan aku, membesarkan aku, bahkan mereka telah memeliharaku sampai aku besar seperti sekarang.

Lanjut cerita, saat namaku telah terdaftar sebagai salah satu siswa yang direkomendasikan oleh sekolah untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi dengan jalur undangan, pikiranku berbalik arah, sejak pertama kali diumumkan roman mukaku tidak begitu bahagia, namun saat aku mendengar bahwa aku terdaftar untuk direkomendasikan dalam jalur undangan itu sebagai penerima Beasiswa Bidik Misi, aku cukup lega mendengarnya. Aku juga sempat memberitahukan hal ini kepada kedua orang tuaku dan merekapun sangat mendukung niatku itu.Di raut mereka terpancar jelas rona bahagia karena mereka punya harapan besar agar aku bisa menyelesaikan pendidikanku dengan beasiswa Bidik Misi itu. Namun saat pengumuman, diantara deretan nama-nama yang diterima di perguruan tinggi melalui jalur undangan, tidak ada namaku yang tercantum pada surat pengumuman itu. Aku sempat putus asa dan kecewa atas keputusan itu.Aku telah memberikan harapan besar pada seleksi itu, namun hasilnya mengecewakan.

Saat aku memberitahukan kedua orang tuaku tentang hasil seleksi itu, raut muka mereka sempat padam oleh rasa sedih, namun hanya dalam waktu singkat raut muka itu kembali dengan raut muka yang meyakinkan.Mereka meyakinkanku bahwa kegagalan itu adalah awal dari keberhasilan dan kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda.Aku sangat terpukau oleh kata-kata mereka.Aku sadar bahwa kegagalan itu bukan untuk direnungi namun harus segera mungkin untuk dikendalikan.Aku sering mengatakan bahwa gagal satu kali itu wajar karena itu adalah sebuah pengalaman yang luar biasa seperti kata orang bijak, pengalaman adalah guru yang paling baik.Jadi, dari kegagalan itu kita bisa belajar untuk bangkit dari keterpurukan. Aku percaya bahwa dibalik usaha akan ada hasil. Ketika kita berusaha untuk meraih apa yang kita inginkan, niscaya Tuhan akan selalu bersama dengan orang-orang yang mau berusaha.

Ingat nak, “Ketika kamu gagal pada jalur undangan, bukan berarti kamu telah berhenti untuk berjuang”, itu adalah kata-kata orang tuaku saat itu. Akhirnya dengan tekad yang kuat untuk terus berjuang dengan dorongan dari sang motivator terhebat yaitu pahlawan hidupku, aku mencoba lagi mendaftar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) masih dengan tiket Bidik Misiku. Dan Alhamdulillah aku diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang terkemuka di Makassar.Aku diterima pada program studi Pendidkan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar (UNM). Aku sangat bersyukur karena bisa terpilih diantara ribuan nama yang mendaftar. Terlebih lagi karena aku diterima dengan beasiswa Bidik Misi. Sujud syukurku tak hentinya ku panjatkan kepada sang Khalid yang telah mencurahkan Rahmat dan HidayahNya sehingga aku bisa lulus. Aku juga berterima kasih kepada kedua orang tuaku, sang pahlawan hidupku dengan segala doa-doanya, dengan segala petuah-petuahnya, dengan segala nasehatnya. Terima kasih ayah !terima kasih ibu !. kalian adalah sosok terhebat yang pernah kukenal, kalian adalah hal berharga yang kupunya, dan kalian adalah pahlawan hidupku yang tak henti-hentinya mencurahkan kasih sayangnya untukku. Terima kasih juga kepada kakak-kakak dan adik-adikku atas segala doa dan dukungan kalian semua aku bisa berjuang untuk menata masa depanku. Juga kepada keluargaku dan kepada semua yang pernah mengenalku, terima kasih atas perkenalan itu meski hanya sebatas perkenalan.Aku berjanji akan membalas semua yang kalian berikan padaku. Mungkin aku tak bisa membalas semuanya, namun setidaknya senyum yang selama ini terpancar dari raut wajah kalian bisa kekal abadi dalam jiwaku untuk kujadikan sebagai obat penawar disaat aku gundah.

Penyambutan Mahasiswa Baru di gedung Celebes Convention Center (CCC) adalah awal dimana aku resmi menjadi mahasiswa UNM dengan almamater orangenya sebagai lambang kebanggaanku dan Menara Phinisi sebagai icon kegagahannya.Kurang lebih satu tahun aku telah menghabiskan waktuku menimba ilmu di Universitas Negeri Makassar tercinta ini.Sekarang aku memasuki tahun kedua di kampus ungu, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM pada semester empat.aku datang untuk menunaikan kewajibanku yang kini kusandarkan pada sesosok cahaya untuk hidupku. Semoga cahaya itu tetap terang menyinari langkahku menuju masa depanku. Hitam pada gelapnya lorong yangakan kuarungipun aku bagikan pada pemiliki cahaya terang itu, biarkan dia yang menuntun cahayanya untuk menerangi lorong hidupku hingga aku menemukan mimpiku yang terpendam di sudut malam itu. Sekali lagi cahaya terang itu adalah Bidik Misi.Aku bersyukur karena hadirnya.Bidik Misi yang telah membantuku untuk menggapai mimpi-mimpiku.Bidik Misi bagaikan sebuah cahaya terang yang tiba-tiba hadir dalam gelapnya lorong hidupku. Bidik Misi kemudian menyalahkan api terangnya hingga aku bisa berjalan dalam kegelapan itu menuju masa depanku dan meraih mimpi-mimpi besarku yang selama ini terpendam di sudut malam sana. Bidik Misi hadir sebagai sandaranku saat aku tak bisa lagi bangkit dari keputus asaanku.

Aku berceloteh malam ini, aku bercerita pada malam dan rembulannya yang baru saja menampakkan wajahnya saat senja telah beranjak dari tempat kediamannya.Aku mencurahkan sedikit rasa gembiraku dan juga rasa kagumku pada Bidik Misi karena hadirnya kini mengubah mimpi-mimpi anak bangsa yang selama ini terpendam menjadi kenyataan.Bidik Misi telah memberikan sebongkah rasa bahagia di wajah anak-anak bangsa.senyuman yang terpancar dari para laskar ilmu dan pasukan pembawa perubahan sebagai generasi penerus bangsa hadir kembali dalam roman yang sangat jelas kelihatan. Semangat mereka kembali terpatri dalam hati sanubari dengan tekad yang bulat untuk merangkai masa depannya masing-masing. Hidup dalam kesederhanaan adalah prinsip hidup mereka karena merekapun tahu bahwa hidup sederhana bagi mereka adalah ladang subur untuk mimpi yang mereka rajut di masa depan.

Kupandangi malam dengan kilauan seribu bintang, kudengarkan bisikan malam dan rayuan manja sang rembulannya. Kupejamkan kedua bola mataku dan kurasakan belaian angin malam yang mengantarku pada sebuah kota kecil tak berpenghuni. Hanya ada aku dan sebuah cerita yang terlukis pada secarik kertas putih dengan goresan pena abadi yang sungguh indah. Aku tak tahu betul apa isi dari tulisan yang ada pada secarik kertas itu, hanya ada sepasang kata yang maknanya cukup dalam untuk aku teropong dengan kedua bola mataku. Aku tak begitu tahu makna kata itu, namun aku sedikit mengerti artinya.Ketika aku menundukkan sedikit badanku untuk mengambil tulisan itu, tiba-tiba angin datang menyambarnya dan membawanya entah kemana.“Bidik Misi”, ya hanya kata itu yang sempat terbesik di hatiku ketika secarik kertas itu berlalu bersama tiupan angin yang membawanya kesudut malam.Saat aku terbangun, aku baru sadar ternyata hari ini deadline pengumpulan secarik cerita tentang curhatan Bidik Misi.Akupun melanjutkan merangkai kata demi kata untuk kujadikan sedikit cerita tentang Bidik Misi dan akhirnya cerita yang terangkai itu jadi seperti ini.


Sebelum aku menutup sedikit coretanku tentang Bidik Misi ini, ijinkan aku sekali lagi berterima kasih pada Bidik Misi yang telah memberikanku secarik harapan untuk kujadikan lukisan abadi dalam jiwaku, biarkan lukisan itu tetap abadi terpajang disudut ruang hatiku dan kuceritakan esok pada anak-anakku. Terima Kasih Bidik Misi ! Terima Kasih…

*Oleh: Jamaluddin Gesrianto A. (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)
Share:

0 comments:

Posting Komentar

KEGIATAN KAMI

Tentang Kami

Wadah mahasiswa Bidikmisi UNM untuk saling berkreasin berinovasi dan tentunya menginspirasi.
Ayo kirimkan cerita inspiratif kalian sebagai mahasiswa Bidikmisi agar bisa menginspirasi banyak orang.

Kirimkan ke: ikbim.unm@gmail.com
ikbim.unm@gmail.com
.

Arsip

ADMIN

Website ini dikelola oleh Bidang 3 Media dan Komunikasi IKBIM UNM Periode 2017-2018

1. Muhammmad Akhsan Alimuddin
2. A. Irvan Pradana
3. Nurhidayah
4. Vivi Suyanti
4. Nining Rahmiati
4. Muh. Irwan
4. Lindasari

Theme Support