Minggu, 05 Januari 2014

Menemukan Secawan hujan di Sajak Bidik Misi


Beberapa rintik hujan merebah tepat di telapak musimnya
Rasa bahagia sekaligus haru sangat terasa saat tersiar kabar bahwa nama saya tercantum sebagai salah satu penerima beasiswa bidik misi. Sebelum mendapat informasi tersebut, saya dibanjiri kebekuan harapan untuk melanjutkan kuliah. Di lain sisi, orang tua dan kakak-kakak saya tetap optimis bahwa saya harus melangkah menapaki anak tangga pendidikan hingga sampai pada puncak impian. Kontradiksi sempat menyelimuti saya dan keluarga. Keraguan tak kalah hebatnya bergelayut di batin. Sepertinya resep putus asa sudah sangat membanjiri. Persoalan biaya menjadi penyebab utama saya bimbang.
Pasalnya, bapak saya hanya seorang pensiunan PNS dan ibu seorang ibu rumah tangga. Gaji PNS dan pensiunan PNS tentulah jauh berbeda. Pensiunan memiliki gaji rendah dibanding PNS. Golongan pangkat bapak saya juga tidak tinggi. Bapak tidak punya pekerjaan sampingan. Bapak saya harus menanggung hidup lima orang anak. Tetapi, bapak tetap optimis dengan harapannya yang ingin melihat anaknya memiliki pendidikan yang tinggi. Kata beliau “Keinginan itu nomor satu, uang masalah belakangan nanti bapak usahakan, pasti ada jalan, Tuhan itu Maha Penolong Nak. Yakinlah”. Dorongan seorang bapak kala itu menambah kebimbangan yang luar biasa pada diri saya. SMA saja saya jarang beli LKS dan buku, palingan mencatat buku milik teman. Begitupun uang semester yang sering tersendat pembayarannya. Sampai-sampai saya biasa dipanggil menghadap ke bendahara sekolah. SMA saja begini, bagaimana jika di bangku kuliah nanti. Harapan saya kala itu ibarat telur di ujung tanduk. Sementara teman-teman saya berbondong-bondong mendaftar di perguruan tinggi kesukaannya.

Namun, semangat saya tidak patah semua. Berdiam diri tanpa usaha adalah hal yang memalukan. Nah, saya mencoba mendaftar beasiswa program pemerintah dan swasta. Kebetulan nilai rapor sangatlah mendukung. Hanya itu jalan satu-satunya yang bisa saya lakukan dan berusaha untuk tidak mengecewakan bapak dan keluarga. Hampir setiap menit saya merenung. Dalam renungan: saya melihat diri ini mengenyam pendidikan tanpa biaya orang tua. Saya kemudian mencatat renungan itu, catatan-catatan adalah doa. Ia juga semacam harapan. Dan kelak bisa menjelma rintik hujan, yang membasahi jiwa-jiwa yang sabar.Singkat cerita, diantara beberapa teman yang mendaftar beasiswa bidik misi hanya empat orang dari sekolah saya yang lulus. Termasuk saya sendiri. Bidik misi hadir di waktu yang tepat. Ini merupakan rezeki. Tuhan Maha Penolong.

Rezeki itu serupa hujan. Kehadirannya tak dapat disangka, rintiknya membawa kesejukan. Beberapa rintik hujan merebah tepat di telapak musimnya. Bersyukurlah!

“Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”


Beberapa kekata lahir dari rahim hujan
 Angin malam serasa mengelus lembut alam renungan. Merenung lagi. Tetapi, bulan tidak di tempatnya malam ini. Mungkin, lagi-lagi ia menerangi angan-anganku yang masih dalam renungan terus menggeliat. Renungan kali ini bukan lagi soal keraguan pun kebimbangan. Ini soal kebutuhan. Menjalani perkuliahan menjadi euforia yang luar biasa, apalagi mendapat beasiswa.

Saya memiliki cita-cita untuk membeli sebuah laptop. Mengingat tugas dari dosen yang dominan mengharuskan menggunakan laptop. Uang dari beasiswa saya tabung, tidak mungkin saya mengharapkan uang dari orang tua. Bapak sudah cukup membiayai sekolah saya dari SD sampai SMA. Dan saya merasa itu sudah luar biasa. Setiap beasiswa cair saya tak lupa membeli buku walaupun hanya satu, buku adalah kebutuhan.Tetapi, akhir-akhir ini, ketika beasiswa cair, saya tidak sempat membeli buku. Sedikit boros memang. Saya tergoda untuk nonton film di bioskop dan jajan. Namanya juga manusia. Heheee. Namun, saya berjanji akan menyimpan uang untuk membeli buku.

Akhirnya, cita-cita saya untuk memiliki laptop terwujud walaupun agak lama. Dibutuhkan kesabaran dalam mengarungi arus kehidupan. Seperti mantra Ahmad Fuadi “Man shabara zhafira” Siapa yang bersabar akan beruntung.

 Fitrawan Umar dalam bukunya mengatakan “Konon, separuh hidup kita adalah menunggu”. Yah saya harus menunggu uang terkumpul untuk membeli sebuah laptop. Bukan laptop, lebih tepatnya notebook. Ukuran dan harganya lebih kecil/murah daripada laptop. Saya tidak repot lagi meminjam laptop teman dan tidak perlu lagi ke tempat rental untuk mengetik tugas kuliah.
Tidak hanya itu, saat pertama mendapat beasiswa, saya gunakan untuk mentraktir makan bapak, ibu, dan kakak-kakak. Walaupun itu selemah-lemahnya pemberian seorang anak kepada keluarganya.
Notebook, buku, dan mentraktir makan keluarga adalah berkat bidik misi: Beberapa kekata lahir dari rahim hujan.

“Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”


 *Oleh: Arini Suastika (Pend. Bahasa Indonesia'2010)

Share:

1 komentar:

  1. aku juga seorang anak pensiunan PNS.. sempat patah semangat setelah mendengar katanya anak pensiunan PNS tidak bisa mendapat bidik misi.. semoga saja aku bisa seperti kakak ya :)

    BalasHapus

KEGIATAN KAMI

Tentang Kami

Wadah mahasiswa Bidikmisi UNM untuk saling berkreasin berinovasi dan tentunya menginspirasi.
Ayo kirimkan cerita inspiratif kalian sebagai mahasiswa Bidikmisi agar bisa menginspirasi banyak orang.

Kirimkan ke: ikbim.unm@gmail.com
ikbim.unm@gmail.com
.

Arsip

ADMIN

Website ini dikelola oleh Bidang 3 Media dan Komunikasi IKBIM UNM Periode 2017-2018

1. Muhammmad Akhsan Alimuddin
2. A. Irvan Pradana
3. Nurhidayah
4. Vivi Suyanti
4. Nining Rahmiati
4. Muh. Irwan
4. Lindasari

Theme Support